Meneladan Walisongo di Tengah Dakwah yang Makin Bising

Dakwah hari ini ada di mana-mana. Ia hadir di masjid, televisi, pesantren, YouTube, Instagram, TikTok, bahkan di grup WhatsApp keluarga. Hampir setiap hari kita menerima potongan ceramah, nasihat keagamaan, ajakan berbuat baik, dan perdebatan tentang siapa yang paling benar dalam memahami agama.

Semestinya, semakin banyak ruang dakwah, semakin luas pula ruang kebaikan. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dakwah yang ramai belum tentu membuat masyarakat lebih damai. Ceramah yang sering dibagikan belum tentu melahirkan sikap yang lebih santun. Bahkan, tidak jarang pesan agama justru menjadi sumber pertengkaran, saling curiga, dan kebencian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tengah situasi seperti ini, kita perlu kembali menengok cara Walisongo berdakwah. Bukan untuk mengulang masa lalu secara romantis, melainkan menemukan kembali nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan hari ini: kebijaksanaan, keteladanan, penghargaan terhadap budaya, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Bukan Ajang Debat

Salah satu masalah dakwah hari ini adalah kecenderungannya berubah menjadi perlombaan. Orang berlomba-lomba menjadi yang paling keras, paling berani menghakimi, dan paling cepat menyalahkan kelompok lain.

Perbedaan dalam persoalan fikih, tradisi, dan pilihan keagamaan sering diperlakukan seolah-olah merupakan pertarungan antara iman dan kekafiran. Padahal, tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan kemarahan. Tidak semua persoalan agama perlu dibicarakan dengan nada tinggi.

Dakwah memang memiliki tugas menyampaikan kebenaran. Akan tetapi, kebenaran tidak akan mudah diterima jika disampaikan dengan cara yang merendahkan. Orang mungkin mengingat isi ceramah, tetapi mereka juga akan mengingat apakah dirinya diperlakukan dengan hormat atau justru dipermalukan.

Walisongo memberikan teladan penting dalam hal ini. Mereka berdakwah dengan memperhatikan kondisi sosial dan kebudayaan masyarakat. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa strategi dakwah Walisongo dilakukan melalui pendidikan, seni, perdagangan, pendekatan sosial, serta akulturasi budaya.

Artinya, dakwah tidak dijalankan dengan memaksa masyarakat menerima perubahan secara tiba-tiba. Islam diperkenalkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hanya diberi tahu apa yang benar, tetapi juga diajak memahami dan merasakan kebaikan dari ajaran tersebut.

Inilah yang sering hilang dari dakwah kita hari ini. Kita terlalu sibuk menyampaikan pesan, tetapi lupa mendengarkan orang yang menjadi sasaran dakwah.

Memahami Kondisi

Masyarakat hari ini memiliki persoalan yang jauh lebih kompleks. Anak-anak muda tidak hanya berhadapan dengan persoalan ibadah, tetapi juga tekanan pendidikan, tuntutan ekonomi, krisis kepercayaan diri, kecanduan media sosial, dan kecemasan menghadapi masa depan.

Masyarakat miskin tidak hanya membutuhkan nasihat agar bersabar. Mereka juga membutuhkan akses pendidikan, pendampingan, dan keberpihakan sosial. Korban kekerasan tidak cukup hanya diminta memaafkan. Mereka membutuhkan perlindungan dan kepastian bahwa agama tidak akan digunakan untuk membenarkan penindasan.

Di sinilah dakwah seharusnya hadir secara lebih nyata. Dakwah tidak boleh berhenti pada ajakan moral, tetapi harus berani menyentuh akar persoalan yang dihadapi masyarakat.

Walisongo tidak hanya dikenal sebagai penyampai ajaran agama. Mereka juga hadir sebagai pendidik, pembimbing, dan bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Dalam beberapa kajian, dakwah Walisongo dipahami bukan hanya sebagai kegiatan menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga sebagai upaya memperbaiki kehidupan individu dan masyarakat.

Maka, dakwah yang meneladani Walisongo bukan dakwah yang hanya sibuk mengurus penampilan umat, tetapi lupa pada penderitaan mereka. Bukan dakwah yang rajin mengomentari kesalahan orang lain, tetapi abai terhadap kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan.

Dakwah harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: setelah mendengar dakwah ini, apakah masyarakat menjadi lebih kuat, lebih berdaya, dan lebih dekat dengan sesama manusia.

Pendekatan Budaya

Walisongo juga mengajarkan bahwa budaya tidak selalu harus diposisikan sebagai lawan agama. Kebudayaan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar ajaran agama.

Pendekatan semacam ini menunjukkan kecerdasan dalam berdakwah. Walisongo tidak serta-merta merendahkan tradisi masyarakat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Mereka memilah, mengolah, dan mengarahkannya agar memiliki makna yang lebih baik.

Sikap tersebut penting untuk direnungkan. Dalam kehidupan beragama hari ini, kita sering menyaksikan tradisi masyarakat langsung dicap sebagai bidah, sesat, atau tidak Islami tanpa penjelasan yang memadai. Akibatnya, agama terasa jauh dari kehidupan sosial. Masyarakat tidak mendapatkan ruang untuk berdialog, melainkan hanya menerima vonis.

Padahal, dakwah yang baik tidak sekadar memindahkan istilah-istilah agama ke tengah masyarakat. Dakwah harus menerjemahkan nilai Islam ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia pada zamannya.

Dulu, Walisongo memanfaatkan kesenian dan simbol budaya yang dekat dengan masyarakat. Hari ini, media sosial adalah ruang kebudayaan baru. TikTok, YouTube, Instagram, dan berbagai platform digital merupakan “panggung” tempat masyarakat belajar, berbicara, dan membentuk pandangan hidup.

Karena itu, dakwah di media sosial perlu kreatif tanpa kehilangan kedalaman. Pendakwah tidak harus mengikuti semua tren, tetapi perlu memahami cara kerja zaman. Jangan sampai dakwah hanya hadir sebagai kemarahan yang dikemas dalam video pendek, lalu viral karena memancing kontroversi.

Viral Bukan Ukuran

Dakwah digital sering diukur dari jumlah penonton, tanda suka, komentar, dan jumlah orang yang membagikan konten. Ukuran tersebut memang penting dalam konteks komunikasi, tetapi tidak cukup untuk menilai keberhasilan dakwah.

Konten yang paling banyak ditonton belum tentu paling banyak mengubah perilaku. Video yang paling ramai dibicarakan belum tentu paling besar manfaatnya. Bahkan, konten yang viral karena kemarahan justru dapat memperlebar jarak di tengah masyarakat.

Dakwah yang baik bukan hanya dakwah yang terdengar, melainkan dakwah yang membekas. Ia membuat seseorang lebih jujur ketika berdagang, lebih sabar menghadapi keluarga, lebih peduli kepada tetangga, dan lebih adil kepada orang yang berbeda pandangan.

Dalam hal ini, keteladanan jauh lebih kuat daripada retorika. Masyarakat mungkin lupa pada kalimat-kalimat panjang dalam ceramah, tetapi mereka akan mengingat sikap seorang pendakwah ketika menghadapi kritik. Apakah ia membalas dengan penghinaan atau menjawab dengan kedewasaan? Apakah ia mudah menuduh atau bersedia memeriksa kembali ucapannya?

Walisongo mengajarkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui lisan. Dakwah juga disampaikan melalui perilaku, pendidikan, kepedulian, dan kemampuan membangun kehidupan bersama.

Bahasa Kasih Sayang 

Meneladan Walisongo bukan berarti menjadi lunak terhadap kemungkaran atau menghapus perbedaan antara yang benar dan yang salah. Dakwah tetap membutuhkan ketegasan. Namun, ketegasan tidak harus diwujudkan melalui cacian.

Islam dapat disampaikan dengan tegas tanpa kasar, kritis tanpa menghina, dan berbeda pendapat tanpa memutus persaudaraan. Pendekatan inklusif dan dialogis yang dikaitkan dengan strategi dakwah Walisongo juga dinilai relevan untuk merawat kerukunan serta mengatasi kesenjangan pemahaman agama di tengah masyarakat yang beragam.

Kita membutuhkan dakwah yang berani membela kebenaran, tetapi tidak merasa paling suci. Kita membutuhkan pendakwah yang memiliki pengetahuan, tetapi tetap rendah hati. Kita membutuhkan ceramah yang tidak hanya berbicara tentang pahala dan dosa, tetapi juga tentang keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

Di tengah dakwah yang semakin bising, tugas kita bukan menambah kebisingan. Tugas kita adalah menghadirkan suara yang jernih.

Suara yang tidak hanya mengajak manusia takut kepada Tuhan, tetapi juga mengajarkan mereka untuk tidak menyakiti sesama. Suara yang tidak hanya memperdebatkan perbedaan, tetapi juga menguatkan persaudaraan. Suara yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi tindakan.

Itulah barangkali inti keteladanan Walisongo. Mereka tidak menjadikan dakwah sebagai panggung untuk menunjukkan kehebatan diri. Mereka menjadikan dakwah sebagai jalan untuk mendekatkan manusia kepada Allah, kebudayaan kepada nilai-nilai kebaikan, dan masyarakat kepada kehidupan yang lebih beradab.

Di zaman ketika semua orang ingin didengar, dakwah Walisongo mengajarkan satu hal yang sederhana: sebelum berbicara kepada banyak orang, belajarlah memahami manusia.

Tinggalkan Balasan