Cerita lain disampaikan oleh Ujang, salah satu santri KH Abdul Wazin yang sudah cukup lama menimba ilmu di sana, bahkan dari zaman KH Mursalin.
Menurut cerita yang beredar, desa Mulyasari, tempat KH Abdul Wazin bermukim dan mendirikan pondok pesantren, ketika itu adalah desa yang gelap, keji, kriminal, hitam, dan orang-orang menyebutkan sebagai desa “Edan”.

Pada tahun 1988, kasus pembunuhan seperti hal yang sangat biasa di desa tersebut. Bahkan, melihat mayat tergantung di pohon atau tergeletak di sawah adalah hal yang lumrah. Namun, dengan sikap tegas dan berani dari KH Abdul Wazin, kejahatan-kejahatan tersebut perlahan mulai menghilang. Bahkan, KH Abdul Wazin dengan perjuangannya berhasil membawa listrik masuk ke desa Mulyasari dengan gerakan-gerakan politik yang beliau bangun.
Tanpa pandang bulu, KH Abdul Wazin selalu membuka pintu rumahnya untuk siapapun, mulai dari pelaku pembunuhan pada zaman “Edan” tersebut, hingga keluarga korban pembunuhan. Tak sedikit orang yang berhasil beliau damaikan atas permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat itu.
Hal lain yang disampaikan oleh Ujang adalah cara KH Abdul Wazin menjamu setiap orang yang datang ke rumahnya. Bahkan, orang dengan gangguan jiwa yang datang ke rumahnya dengan membawa kotak makanan berisi cacing tanah dan daun, pun selalu diterima oleh KH Abdul Wazin. Bahkan, KH Abdul Wazin selalu menerima dan memberikan orang dengan gangguan jiwa tersebut makanan yang lebih layak. Bahkan, cacing tanah dan daun yang ia terima, tidak pernah dibuang begitu saja. Beliau selalu memberikannya pada bebek yang dipelihara agar makanan tersebut tidak sia-sia.
Kebaikan, kemanusiaan, tidak membeda-bedakan, adalah pelajaran lain yang Ujang dapatkan selama mukim di Pondok Pesantren asuhan KH Abdul Wazin.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang sosok kiai kampung yang memiliki jiwa persatuan dan persaudaraan ini, saya bertemu dengan Kiai Do’a, putra kelima dari KH Abdul Wazin dan bertanya riwayat pendidikan KH Abdul Wazin.
