Meneladani Kemanusiaan KH Abdul Wazin Asal Cianjur

Menurut Kiai Do’a, KH Abdul Wazin tidak pernah menempuh pendidikan formal. Semua waktu dan umurnya dihabiskan untuk belajar ilmu agama. Di antara pesantren-pesantren tempat menimba ilmu KH Abdul Wazin adalah Pondok Pesantren Gentur pada zaman Syekh Abdul Haq Nuh, Pondok Pesantren Gelar Cianjur Asuhan Mama KH Zen Abdussomad, Pondok Pesantren CIbaregbeg Cianjur asuhan Syekh Abdul Qadir, dan pesantren-pesantren lain di wilayah Cianjur dan sekitarnya.

Selain itu, menurut Kiai Do’a, KH Abdul Wazin turut aktif dalam pembangunan desa untuk mengupayakan hal-hal masyarakat di desa Mulyasari. Seperti masuknya listrik, pembangunan jalan raya, hingga pertanian sawah dan pohon jati untuk memberdayakan ekonomi masyarakat setempat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sepeninggalnya KH Abdul Wazin, Pondok Pesantren Alhikmatujin kini berganti nama menjadi Pondok Pesantren At-Tawassul yang diasuh oleh anak-anaknya, yaitu Kiai Abah Sepuh, Kiai Do’a, Kiai Yasin, Kiai Aang, dan Kiai Ade. 

Setelah melakukan penelusuran dan wawancara, saya menyempatkan untuk datang ke makam KH Abdul Wazin bin KH Mursalin bin Raden Ganda, yang lokasinya tidak jauh dari pondok pesantren.  Di sana, setelah mendengar semua kisah perjuangan KH Abdul Wazin dalam menuntut ilmu, memperjuangkan hak rakyat, persatuan, kemanuasian hingga politik, saya menjadi bersemangat untuk menceritakan kembali kisah-kisah itu.

Melalui tulisan ini, kisah perjuangan kiai kampung, seperti KH Abdul Wazin, harus menjadi pedoman kita dan generasi selanjutnya dalam bertindak dan menebarkan manfaat dan kebaikan. Kisah-kisah ini tidak boleh padam, bahwa desa yang selalu dianggap sebelah mata, ternyata memiliki cerita perjuangannya sendiri. 

Dan pada akhirnya, kita harus menemukan kebaruan perspektif dalam melihat Indonesia, yang biasa kita lihat hanya lewat kacamata Jakarta. 

Tinggalkan Balasan