Jamu Gendong Yu Karti

Yu Karti kembali membuka dompet lusuhnya. Dia bolak balik. Siapa tahu ada uang lain yang terlesip. Ternyata nihil. Isi dompetnya hanya tinggal tiga lembar pecahan sepuluh ribuan dan satu lembar lima ribuan.

“Entah bagaimana bertahan hidup dengan uang tiga puluh lima ribu,” gerutunya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yu Karti kemudian menuju dapur. Bahan untuk dagangannya hampir semua habis. Kencur, jahe, lempuyang, daun pepaya, kunyit, dan gula jawa tidak cukup untuk dibuat dagangan.

Beberapa hari ini dagangannya tidak laku. Sehari paling bawa pulang uang dua puluh lima ribu rupiah. Jumlah yang tidak cukup untuk membeli bahan dagangan esoknya. Jangankan untung, balik modal saja tidak.

“Mak! Minyak goreng habis, berasnya juga tinggal dikit,” kata Siti, anak sulungnya mengagetkan Yu Karti yang sedang melamun memikirkan bagaimana menyambung hidup.

Sejak satu tahun lalu, suaminya pergi untuk mencari kerja di kota lain. Sampai sekarang, jangankan uang kiriman, kabar pun tidak pernah didengar. Entah suaminya sudah meninggal atau malah kecantol perempuan lain, Yu Karti tidak tahu. Yu Karti harus berjuang membayar kontrakan tiga ratus lima puluh ribu rupiah sebulan dan menghidupi anak-anaknya, Siti kelas 8, Tono kelas 4 dan si bungsu Ratna yang berusia 15 bulan. Beruntung anak-anaknya tidak neko-neko, mau menerima keadaan tanpa mengeluh.

“Ya sudah, yang penting berasnya masih cukup untuk hari ini. Masih ada telur, kan?” tanya Yu Karti pada Siti.

“Masih, Mak. Tinggal 1 butir lagi.”

“Wajan untuk menggoreng sudah kamu cuci?”

“Belum, Mak.”

“Jangan dicuci dulu! Minyak jelantahnya lumayan, bisa untuk mengoreng telur. Kalian makanlah. Emak mau ke pasar dulu belanja bahan jamu.”

***

Setelah beres membuat jamu, Yu Karti bergegas menjajakan dagangannya. “Bismillah, mudah-mudahan hari ini semua laku.” Ia berdoa salam hati sambil menggendong tenggok yang berisi botol penuh jamu. Dia mulai menyusuri jalan-jalan di kampungnya, menuju kampung sebelah.

Hari sudah hampir gelap. Sebentar lagi azan Maghrib berkumandang. Botol-botol jamu Yu Karti hampir semuanya masih penuh. Baru ada tiga pembeli ibu-ibu yang baru melahirkan. Mereka membeli jamu uyup-uyup yang dapat memperlancar ASI.

“Ya Allah gimana ini? Hari sudah menjelang Maghrib. Mendung gelap, sebentar lagi pasti hujan turun deras. Dagangan masih segini banyak. Kalau tidak ada yang beli, rugi lah aku. Tidak ada lagi uang untuk belanja bahan jamu besok, tidak ada uang untuk beli beras dan lauk. Bagaimana anakku makan besok?” rintihnya.

Benar saja, tidak berapa lama hujan turun dengan deras. Yu Karti terpaksa berteduh di sebuah gubuk yang ada di pinggir jalan. “Ya Allah… lindungi hamba dan anak-anakku di rumah.”

Sambil menunggu hujan reda, Yu Karti terus berdoa dan menangis dalam hati. “Hamba pasrah Ya Allah. Hamba hanya memohon, beri pertolongan agar hamba terus dapat memberi makan anak-anak hamba.”

Tidak berapa lama dua orang laki-laki dan perempuan berlari menuju gubuk tempat Yu Karti berteduh. Rupanya mereka juga ingin berteduh di gubuk itu. Segera Yu Karti menggeser tenggoknya dan memberi tempat mereka untuk duduk.

“Monggo Pak, Bu! Di sini tidak kena pias air hujan.”

“Terima kasih, Bu,” jawab si bapak.

“Gimana ini Pak? Kok mobilnya malah mogok? Mana hujan deras banget lagi?” tanya si wanita kepada si pria. Rupanya mereka suami istri. Mobil mereka mogok tidak jauh dari gubuk tempat berteduh.

“Sabar, Bu! Orang bengkel akan segera datang,” jawab suaminya.

Tinggalkan Balasan