Berdasarkan komparasi yang dibuat Pelletier, diketahui Jawa Barat memiliki pesantren lebih banyak dibandingkan dengan Jawa Timur. Namun, ukuran pesantren Jawa Barat dua kali lebih kecil dibanding rata-rata (JB=111,5; JT=230,5 santri). Peta yang dihasilkan riset ini menunjukkan kabupaten dengan pesantren-pesantren paling kecil (warna hijau) dan pesantren dengan jumlah murid lebih dari seribu (titik hitam) di Pulau Jawa.
Di Jawa Barat, skala pesantrennya jauh lebih kecil dibandingkan daerah lain. Hanya ada 26 pesantren yang punya murid lebih dari 1.000 di Jawa Barat. Bandingkan, misalnya, dengan di Jawa Timur yang memiliki tidak kurang dari 94 pesantren dengan jumlah santri lebih dari seribu orang.

Dari pemetaan komparatif tersebut diketahui bahwa, meski memiliki lebih banyak pesantren, pesantren di Jawa Barat memiliki pengaruh (otoritas) yang lebih lemah jika dibandingkan dengan pesantren di Jawa Timur. Di Jawa Barat, pesantren tidak hanya kecil, tapi juga lemah secara kolektif. Jaringan antar-kiai di Jawa Barat lebih renggang, lebih terfragmentasi, dan lebih informal dibandingkan dengan di Jawa Timur.
Fakta lain dari riset ini menunjukkan dinamika organisasi keagamaan di Jawa Barat. Meski banyak orang di Jawa Barat adalah nahdliyin, namun Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi muslim terbesar di Indonesia tidak begitu dominan dan berpengaruh di Jawa Barat. Sebaliknya, lanskap organisasi masyarakat Islam di Jawa Barat sangat terpecah-pecah. Sebagian besar kiai tidak terafiliasi atau hanya menjadi anggota organisasi yang kecil.
Dari studi komparasi ini Pelletier menarik kesimpulan: di Jawa Barat otoritas elite agama (tokoh dan lembaga) lebih lemah dengan struktur yang relatif kompetitif, dan inilah yang menjadi ladang subur tumbuhnya radikalisme.
