Rasanya, jenang sengkolo menjadi kunci dari banyak tradisi di Jawa. Sebagai contoh, biasanya jenang sengkolo ini hadir dalam selametan bersih desa, wetonan, ritual panen, dan masih banyak yang lainnya. Saya pernah berbincang dengan orang yang sudah disepuhkan, bahwasannya jenang sengkolo ini adalah induk atau inti dari segala macam ubo rampe atau sesaji. Sebenarnya apa makna jenang sengkolo menurut masyarakat Jawa?
Biasanya, saat merayakan Wetonan, orangtua kita menyajikan jenang sengkolo untuk kemudian diberi doa dan dibagikan ke tetangga-tetangga terdekat. Jenang sengkolo dan Wetonan merupakan sebuah kesatuan makna yang tak bisa dilepaskan. Jenang sengkolo mempunyai makna sebagai proses kelahiran manusia di muka bumi. Bubur sengkolo yang berwarna merah diibaratkan sebagai indung telur, sementara bubur putih yang diisyaratkan sebagai sperma. Dengan demikian, bubur sengkolo mempunyai makna sebagai proses kelahiran dari orangtua.

Sebenarnya, ada banyak makna yang dapat didapat dari jenang sengkolo, namun karena kita sedang membahas mengenai Wetonan, maka tentu saja makna mengenai kelahiranlah yang dapat disandingkan.
Jika kita melihat betapa masyarakat Jawa menghargai sebuah kelahiran, tentu ada pesan yang mendalam di balik itu semua. Masyarakat Jawa percaya bahwa kelahiran adalah tanda kebesaran Tuhan yang harus dimaknai. Sedangkan, kelahiran merupakan sebuah perayaan dan pengingat bahwa kelahiran bukan hanya tentang “hidup”, namun ada tanggung jawab besar yang diemban. Dalam falsafah Jawa, ada dua dimensi yang harus dipenuhi atau setidaknya diusahakan selama hidup. Yang pertama adalah dimensi sosial, dan yang kedua adalah dimensi semesta. Kedua dimensi itu akan menciptakan jembatan menuju dimensi ketiga, yaitu dimensi Ketuhanan.
Untuk mencapai hubungan yang baik dengan Tuhan, manusia membutuhkan dua proses yang baik juga. Berbuat baik kepada manusia, biasanya kita mengenal sebuah falsafah Urip Iku Urub atau Memayu Hayuning Bebrayan. Dalam konsep Islam pun, falsafah Jawa ini masih sesuai dengan dalil Khairunnass anfa’uhum linnaass. Dan, yang kedua berbuat baik kepada alam semesta, karena tentu kita hidup bukan tentang diri kita, namun semua komponen semesta juga hidup dan menyambung hingga ke Tuhan. Dalam istilah Jawa disebut Memayu Hayuning Bawana, sedangkan dalam konsep Islam, terminologi ini berarti rahmatan lil ‘alamin.
Karena peranan manusia yang besar itulah kita setiap bulan diingatkan melalui Wetonan; bahwa kita pernah terlahir di dunia ini bukan tanpa peranan dan tanggung jawab. Kita terlahir untuk misi yang besar. Semua peran serta misi itu tersirat dalam Wetonan dan jenang sengkolo.
