Gejala serupa terjadi di negara-negara Uni Eropa. Politik identitas, dan identitas nasional, kian menyempit dan menajam. Brexit, keluarnya Britania Raya, Inggris, dari Uni Eropa adalah reprentasi “menyempitnya identitas nasional” negara-negara Uni Eropa. Kawasan lain juga dilanda gejala serupa.
Namun, yang mengherankan Fukuyama, bandul politiknya justru bergerak ke kanan, bukan ke kiri sebagaimana mestinya. Pengelompokan politik tidak lagi didasarkan pada kelas, melainkan identitas. Pada masa sebelumnya, jika pelaksanaan demokrasi menghadirkan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan, kelas-kelas masyarakat yang merasa dirugikan akan memberikan dukungan kepada partai-partai kiri, sebutlah partai sosialis-komunis. Yang terjadi sekarang, di era politik populis, justru sebaliknya. Mereka bergabung dan mendukung partai-partai kanan, sebutlah partai ultranasional atau nasionalis sempit atau partai agama. Artinya, pengelompokan tidak didasarkan pada kepentingan kelas, melainkan agama dan nasionalitas.

Inilah, juga, yang dibaca oleh Fukuyama terhadap suburnya radikalisme-terorisme di kalangan kaum Muslim di kawasan Eropa dan Asia. Berdasarkan penelitian yang dia kutip, radikalisme dan terorisme muncul di kalangan Muslim generasi kedua yang bermigrasi dari kawasan Timur Tengah dan Asia ke Eropa. Migran generasi kedua ini sedang mengalami krisis identitas. Mereka ogah mengikuti praktik keagamaan orangtua mereka yang cenderung sufis, namun juga merasa tertolak untuk berintegrasi dengan identitas budaya Eropa modern. Situasi ini dibaca oleh para demagog agama radikalis-fundamentalis, yang mendorong mereka untuk melakukan “perang suci” atas nama keunggulan agama.
Megalothymia, atau merasa diri unggul dan orang lain harus mengakuinya, itulah puncak dari politik identitas dalam pengertiannya yang sempit-negatif masa kini. Difasilitasi oleh masifnya jaringan Internet, melalui media sosial (medsos), maka ujaran kebencian (hate speech) menjadi penanda merajanya politik kebencian. Orang ramai berkelompok berdasarkan kesamaan identitas yang dirasa lebih unggul (megalothymi), apakah itu identitas yang dikonstruksi berdasarkan ras, etnis, atau agama, atau lainnya. Melalui hate speech dan hoax, orang ramai digiring untuk membenci, dan kemudian memusuhi, kelompok lain yang harus dianggap lebih rendah.
