Di akhir buku, Fukuyama mengakui bahwa kita tak bisa lari untuk menghindari perihal identitas ini. Namun, ia mengingatkan, sesungguhnya identitas itu terbangun melalui proses yang panjang. Identitas bukan sesuatu yang given. Bukan diberikan lewat kelahiran (biologis). Keragaman identitas memang dapat menjadi faktor pendorong pemecah belah, namun sekaligus dapat menjadi pengintegrasi —seperti bhineka tunggal eka masyarakat Nusantara. Jika masyarakat dunia mampu mengelola keragaman (politik) identitas ini, Fukuyama yakin gejala ini dapat memperbaiki sistem demokrasi yang memang masih belum sempurna.
