Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya kita renungkan sebuah kisah penuh hikmah antara Imam Hasan al-Basri dan seorang budak yang ingin sekali merdeka dari belenggu tuannya. Kisah ini terdapat dalam kitab Al-Fawaid al Mukhtaroh li Saliki Thariqil Akhiroh, yang berisi hikmah ucapan Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Dalam kitab itu diceritakan tentang alasan Imam Hasan Al-Basri tak kunjung menuruti permintaan seorang jamaah yang meminta dirinya menyampaikan khutbah tentang memerdekakan budak.
“Aku menunda-nunda permintaanmu itu tak lain karena saat itu aku belum pernah memiliki budak, dan aku tak mempunyai cukup harta untuk membeli budak, hingga suatu hari Allah memberiku rezeki untuk membeli budak. Setelah kubeli, budak itu aku merdekakan. Sejak saat itulah aku baru mau menyampaikan tema khutbah sesuai permintaanmu. Aku hanya tidak ingin berkhutbah ihwal sesuatu yang sama sekali belum aku alami,” ujar Imam Hasan al-Basri menjelaskan alasannya kepada seorang jemaah yang merupakan mantan budak itu.

Masih pantaskah kita bernasihat melalui tulisan setelah membaca kisah Hasan Al Basri itu? Jawabannya tentu tidak pantas. Lalu haruskah kita meninggalkan dunia tulis-menulis lantaran belum memiliki kesesuaian antara perilaku dan tulisan kita? Tunggu dulu. Perilaku memang belum bisa dikatakan paripurna. Tapi haruskah kita menunggu menjadi seorang Hasan Al- Basri baru untuk sekadar memberitahu orang lain bahwa suatu hal itu buruk dan hal ini baik?
Untuk menjadi seorang al-waidz memang ada tuntutan kesesuaian akhlak dengan apa yang disampaikan. Seorang penasihat atau al-waidz atau seorang dai memiliki tanggung jawab moral atas apa yang disampaikannya. Selain itu, seorang pendakwah dengan nilai rapor akhlak merah tak ubahnya seorang pendusta yang gemar menutupi aib sendiri dengan cara menyampaikan kalimat-kalimat suci. Allah berfirman , “Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS.61:3).
Lalu, apa sebaiknya seorang pendakwah/penulis harus membuka aibnya? Haruskah mereka menceritakan semua dosa-dosanya di depan orang yang dinasihati sebelum berpetuah agar tidak dicap pendusta? Lagi-lagi tunggu dulu. Gus Baha (KH. Bahauddin Nursalim) pernah menyampaikan dosa seorang bapak yang beranak pinak gara-gara bercerita di depan anak-anaknya bahwa dulu di masa mudanya pernah berpacaran, karena cerita seperti ini cenderung menginspirasi orang lain (dalam hal ini anak) untuk melakukan hal yang serupa.
Jadi, membeberkan dosa pada orang lain adalah juga perkara yang haram karena bisa menjadi contoh buruk bagi orang lain. Padahal, setiap contoh buruk yang ditiru orang lain akan berakibat dosa itu ditimpakan pula pada orang yang memberikan contoh keburukan itu. Akan tetapi, membeberkan keburukan diri pada orang alim, misalnya pada guru/kiai, tentu tidak bisa disamakan dengan hal tersebut. Sama halnya dengan seorang dokter, seorang ulama mengemban amanah untuk menyembuhkan penyakit hati murid-muridnya. Dan mengobati keburukan murid tidak bisa dilakukan tanpa mengetahui keburukan apa yang dimiliki oleh muridnya itu.
