Diklat Penulisan Santri

Mengais Pahala dari Menulis Cerita

Sebenarnya, untuk menjadi seseorang yang dapat menyebarkan kebaikan tidak harus menjadi seorang pribadi yang sempurna, karena hal itu tak setiap orang mampu melaksanakannya. Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menuturkan bahwa seorang yang fasiq boleh memberikan nasihat karena persyaratan bersih dari dosa teramat sulit terpenuhi. Bahkan bisa-bisa agama ini akan sulit tersyiar jikalau orang-orang fasiq tidak boleh menuturkan kebaikan. Namun demikian, kebaikan yang dituturkan bukan oleh orang baik-baik akan sulit diterima dan cenderung diabaikan. Salah satu cara agar kebaikan dapat terus tersyiarkan secara effektif adalah dengan menuturkan cerita. Kisah-kisah teladan adalah pitutur yang mampu menembus sekat-sekat hati. Bahkan, sebagian besar isi al-Quran adalah tentang kisah-kisah orang terdahulu yang penuh hikmah.

Imam Abu Hanifah pernah menyatakan bahwa beliau lebih suka menelisik cerita para ulama daripada mempelajari ilmu-ilmu fikih, karena dalam cerita-cerita itu sendiri tersimpan dasar-dasar ilmu fikih dan keutamaan perangai orang-orang saleh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam kitab Ainul Adab Was Siyasah disebutkan bahwa Umar Bin Khattab pernah berkata, “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, karena hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa.”

Hal senada juga disampaikan oleh Ali bin Abdurrahman bin Hudzail di kitab yang sama. “Ketahuilah, bahwa membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta menghilangkanrasa malas.”

Menulis cerita yang sarat akan makna adalah cara bernasihat tanpa kesan menggurui. Cara ini di masa orang enggan mendengarkan pesan atau nasihat karena tak mau digurui. Melalui penulisan cerita, pesan yang tersampaikan dalam sebuah akan terlihat sebagai sebagai sebentuk interaksi dan relasi antartokoh, sehingga terhindar dari kesan menggurui. Terakhir, mari kita mengais pahala dari menulis cerita. Semoga dengan tetap berpesan dan berwasiat dalam kebaikan (apa pun itu caranya, dan bagaimana pun itu bentuknya) kita digolongkan oleh Allah sebagai orang-orang yang beruntung sebagaimana termaktub dalam al-Quran surat al-Ashr.
Wallahu a’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan