Kemunculan sosok “Ustazah AI” memunculkan perdebatan yang cukup keras di ruang publik. Sebagian menyambutnya sebagai inovasi baru syiar dan dakwah yang mampu menjangkau generasi digital dengan cara yang lebih menarik. Sebagian lain justru menolaknya mentah-mentah.
Alasannya beragam, mulai dari kesalahan AI ketika melafalkan ayat Al-Qur’an misalnya surat al-Ahzab ayat 21 hingga anggapan bahwa AI tidak memiliki sanad keilmuan sehingga tidak layak berbicara tentang agama.

Perdebatan ini sebenarnya menarik. Bukan semata karena menyangkut teknologi, melainkan karena memperlihatkan bagaimana masyarakat sering kali lebih cepat menghakimi medium daripada substansi.
Benar bahwa terdapat video AI yang salah membaca ayat Al-Qur’an. Kesalahan seperti itu tentu tidak boleh dianggap sepele. Al-Qur’an memiliki aturan bacaan yang ketat dan tidak bisa diperlakukan seperti teks biasa. Kritik terhadap kesalahan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah dan keagamaan.
Namun, apakah satu kesalahan otomatis menjadi alasan untuk menolak seluruh pemanfaatan AI dalam dakwah?
Jika menggunakan logika yang sama, maka setiap pendakwah yang pernah keliru juga semestinya tidak lagi diberi ruang berbicara. Faktanya tidak demikian. Para ulama sejak dahulu pun mengenal konsep koreksi (taṣḥīḥ), klarifikasi, bahkan rujukan silang terhadap pendapat-pendapat yang dianggap kurang tepat. Kesalahan bukanlah akhir dari sebuah proses belajar.
Argumen lain yang sering muncul adalah bahwa AI tidak memiliki sanad.
Pernyataan ini benar, tetapi sering kali dipahami secara kurang proporsional. AI memang bukan murid seorang kiai, tidak pernah duduk di majelis ilmu, tidak memperoleh ijazah hadis, dan tentu tidak memiliki mata rantai transmisi keilmuan sebagaimana tradisi Islam. Sanad adalah milik manusia, bukan milik mesin. Namun pertanyaannya bukanlah apakah AI memiliki sanad, melainkan apakah setiap orang yang menggunakan AI menganggap AI sebagai ulama atau seorang pakar?
Di sinilah letak persoalannya. Sebagian besar pengguna AI tidak sedang mencari guru spiritual. Mereka menggunakan AI sebagaimana menggunakan mesin pencari, ensiklopedia digital, atau buku elektronik: sebagai alat bantu memperoleh informasi yang kemudian tetap perlu diverifikasi kepada sumber yang memiliki otoritas.
Menariknya, pola penolakan terhadap Ustazah AI mengingatkan kita pada perdebatan beberapa tahun lalu ketika banyak artis hijrah kemudian menjadi penceramah. Saat itu, kritik yang muncul hampir sama. Mereka dianggap belajar agama hanya dari Google, YouTube, atau ceramah daring. Mereka dituding tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Bahkan istilah “ustaz Google” sempat menjadi sindiran populer. Kini, pola yang sama kembali muncul. Bedanya, objeknya bukan lagi manusia, melainkan kecerdasan buatan.
Artinya, yang sesungguhnya diperdebatkan bukan sekadar AI, melainkan soal otoritas dalam menyampaikan agama. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sudah sangat akrab dengan AI. Mahasiswa meminta AI menjelaskan teori penelitian. Guru memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat pembelajaran. Dokter mulai menggunakan AI sebagai alat bantu analisis. Pebisnis meminta AI membuat strategi pemasaran. Ibu rumah tangga bertanya kepada AI tentang resep masakan. Programmer meminta AI membantu menulis kode. Bahkan banyak orang meminta AI menyusun surat lamaran kerja, membuat presentasi, hingga merancang perjalanan wisata. Hampir tidak ada perdebatan berarti ketika AI membantu di bidang-bidang tersebut.
Lantas, Mengapa ketika AI tampil mengenakan hijab, berbicara dengan suara lembut, lalu menyampaikan pesan keagamaan, tiba-tiba ia dianggap ancaman?
Pertanyaan ini bukan untuk membenarkan AI tanpa batas, tetapi untuk mengajak kita bersikap lebih konsisten. Masalah utamanya bukanlah AI, melainkan bagaimana AI digunakan. Jika AI dijadikan sumber hukum agama yang final, tentu itu keliru. Jika AI dijadikan pengganti ulama, tentu itu berbahaya. Namun jika AI diposisikan sebagai media dakwah, alat komunikasi, atau bahkan pintu awal seseorang tertarik belajar agama sebelum kemudian berguru kepada orang yang memiliki kompetensi, mengapa harus langsung ditolak? Bukankah selama ini dakwah juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman?
Dulu dakwah dilakukan dari mimbar ke mimbar. Kemudian masuk radio. Lalu televisi. Berlanjut ke YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga siaran langsung di berbagai platform digital. Hampir setiap medium baru pada awal kemunculannya selalu menuai penolakan.
Namun seiring waktu, masyarakat belajar membedakan antara medianya dan isi pesannya. AI mungkin hanyalah babak berikutnya dari perjalanan panjang itu. Tentu AI tidak boleh dilepaskan tanpa pengawasan. Konten keagamaan yang dihasilkan AI perlu melalui proses kurasi, pemeriksaan, dan verifikasi oleh orang-orang yang memang memiliki kompetensi keilmuan. Justru di sinilah peran ulama menjadi semakin penting, bukan semakin tergantikan. AI seharusnya membantu memperluas jangkauan dakwah, sementara otoritas keilmuan tetap berada di tangan manusia.
Pada akhirnya, setiap perkembangan teknologi selalu memiliki dua sisi. Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga bisa melukai. Teknologi dapat menjadi jalan memperoleh ilmu, tetapi juga menyebarkan hoaks. Begitu pula AI. Karena itu, sikap yang paling bijak bukanlah memusuhi teknologinya, melainkan memastikan penggunaannya berada di jalan yang benar.
Dalam tradisi Islam sendiri, seorang muslim diajarkan mengambil hikmah di mana pun ia menemukannya. Kebaikan tidak selalu datang dari sosok yang sempurna, sebagaimana keburukan pun bisa dilakukan oleh manusia yang selama ini dipandang sebagai panutan. Tidak setiap orang yang berpenampilan religius otomatis layak dijadikan teladan, dan tidak setiap teknologi baru otomatis harus dicurigai. Yang menentukan nilai sebuah media bukanlah bentuknya, melainkan bagaimana ia digunakan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mempertanyakan apakah AI boleh berbicara tentang agama, lalu mulai bertanya: siapa yang membimbing AI, siapa yang mengawasi isinya, dan sejauh mana masyarakat mampu bersikap kritis terhadap informasi yang diterimanya. Bayangkan jika AI yang berwujud Ustazah yang anggun jelita itu memiliki perasaan, betapa kecewanya ia lalu berpikir lebih baik meninggalkan manusia karena tidak pernah dianggap?
