Mengapa Kita Takut Berbeda dalam Beragama

Kenapa kita sering merasa tidak nyaman ketika melihat seseorang salat dengan gerakan yang sedikit berbeda? Atau ketika mendengar ada tetangga yang memilih tidak berjilbab, tapi tetap rajin ke pengajian?

Rasa tidak nyaman itu wajar. Tapi, kalau ditanya lebih dalam, kebanyakan dari kita sulit menjelaskan kenapa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jawabannya mungkin sederhana: kita takut karena sejak kecil diajari bahwa hanya ada satu cara “benar” dalam beragama. Sisanya dianggap salah, atau paling tidak, mencurigakan.

Kebenaran vs Keseragaman

Masalahnya bukan pada agamanya, tapi pada cara kita memahami agama. Banyak dari kita dibesarkan dalam lingkungan yang menekankan keseragaman. Di rumah, orang tua mengajarkan satu versi ibadah. Di sekolah, guru hanya mengenalkan satu mazhab. Di media sosial, algoritma mempertemukan kita dengan orang-orang yang sepaham.

Akibatnya, ketika bertemu dengan praktik keagamaan yang lain, respons pertama yang muncul bukan rasa ingin tahu, tapi curiga. Kita terbiasa disodorkan satu narasi: bahwa perbedaan adalah ancaman, bukan kekayaan.

Fenomena ini bukan hanya soal perasaan pribadi. Ia telah menjadi persoalan sosial yang nyata. Survei Setara Institute (2024) mencatat bahwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan masih terjadi di berbagai daerah. Mulai dari penutupan tempat ibadah hingga diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap perbedaan bukan hanya soal perasaan, tapi telah menjadi masalah struktural.

Inklusi di Pesantren 

Di tengah arus keseragaman ini, pesantren sebenarnya telah lama mengajarkan hal yang berbeda. Tradisi ikhtilaf dalam fikih, misalnya, mengakui bahwa satu masalah bisa memiliki beberapa jawaban yang sama-sama sahih. Kitab-kitab kuning pun sering memuat berbagai pendapat ulama tanpa memaksa pembaca memilih satu-satunya kebenaran.

Nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) bukan sekadar jargon. Ini adalah etika hidup yang membuat santri mampu bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan identitas keislamannya. Pesantren mengajarkan bahwa perbedaan cara beribadah bukan berarti perbedaan iman.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Berikut beberapa langkah yang bisa ditempuh:

Pertama, memperbanyak literasi keagamaan yang inklusif. Jangan hanya membaca satu kitab atau satu mazhab. Cobalah baca kitab atau artikel yang memaparkan berbagai pendapat ulama. Dengan begitu, kita akan paham bahwa perbedaan itu sudah ada sejak zaman Nabi.

Kedua, dialog antarumat beragama. Kita perlu memperbanyak forum-forum diskusi atau kajian yang menghadirkan narasumber dari latar belakang berbeda. Dengarkan cerita dari mereka yang berbeda. Sering kali kita justru takut karenanya.

Ketiga, kritis terhadap konten media sosial. Kita harus bersikap kritis dan jangan mudah terprovokasi oleh konten media sosial yang menyudutkan kelompok lain. Kita perlu mengecek fakta dan membandingkan dengan sumber yang lebih kredibel. Sebab, algoritma media sosial seringkali dirancang untuk membuat kita marah, bukan paham.

Keempat, praktik langsung. Sekali waktu kita perlu mencoba menghadiri pengajian atau ibadah di tempat yang berbeda dari biasanya. Pengalaman langsung sering kali lebih efektif daripada sekadar teori. Ketika kita bertemu langsung dengan orang yang berbeda, kita akan sadar bahwa mereka juga manusia biasa yang ingin dekat dengan Tuhan.

Rahmat Perbedaan 

Pada akhirnya, ketakutan terhadap perbedaan dalam beragama adalah cermin dari keterbatasan pemahaman kita sendiri. Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad adalah Islam yang ramah, inklusif, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan membuka diri terhadap perbedaan, kita justru sedang menghidupkan kembali semangat Islam Nusantara yang telah lama menjadi identitas bangsa ini. Berbeda itu bukan ancaman. Berbeda itu rahmat.

Tinggalkan Balasan