Selain itu, di antara rahasia produktif mereka yang lain adalah manajemen waktu. Manajemen waktu yang mantap dan brilian merupakan kunci keberhasilan para ulama. Mereka sadar sekali bahwa waktu adalah napas kehidupan. Mereka membagi waktu secara proporsional sehingga tidak ada yang terabaikan. Baik urusan pribadi seperti bercengkrama dengan keluarga, maupun urusan keumatan seperti membaca, mengajar, menulis dan lainnya. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah sebuah keniscayaan bagi mereka, membuat umur terasa lebih panjang dan memberikan dampak positif.
Rahasia produktif manusia yang sebenarnya dimulai pada masa muda. Karena di waktu muda kita dapat bekerja secara optimal, fisik, dan semangat juga mendukung. Semakin kita menua, semakin besar tanggung jawab yang diemban, waktu menjadi semakin sempit, fisik pun kian melemah, semangat tak lagi menggebu, sementara kesibukan terus bertambah. Maka tidak ada alasan untuk bersegera memanfaatkan waktu dengan baik, terutama untuk berkarya.

***
Lantas, mengapa kita cenderung lesu dalam berkarya, terutama menulis?
Jika diamati secara cermat, hal ini disebabkan banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis hanya sekadar mencari popularitas dan royalti semata. Menjadi penulis memang akan melambungkan nama seseorang karena publikasi karyanya. Tulisannya disukai dan dibaca oleh khalayak. Begitupun dengan royalti, seorang penulis akan menerima sejumlah uang hasil dari pemuatan karya di media cetak atau buku-bukunya yang terjual.
Tentu tidak ada yang salah dari dua orientasi keduniaan tersebut, sebab keduanya pun merupakan timbal balik yang sepadan. Secara naluri, manusia ingin dikenal dengan reputasi baik dan materi yang mumpuni. Namun, banyak sekali para penulis, terutama pemula, yang kandas akibat termakan ekspektasi tersebut.
Saya pun masih ingat bagaimana masa kuliah dulu, menulis menjadi salah satu kegiatan rutin demi mendapatkan honor tulisan. Bergerilya dari sejumlah koran ke koran lain, dari satu sayembara ke sayembara berikutnya, dan seterusnya. Dari honor yang tidak seberapa itulah saya membeli buku-buku. Hingga pada akhirnya, saya pernah mengalami kehilangan gairah menulis dan vakum selama lebih dua tahun. Hal tersebut tak lain, karena saya merasa semua tulisan selama ini hampa, kepuasan yang semu, tanpa hasil yang benar-benar berarti.
Kendala lainnya yang menyebabkan kita tidak produktif adalah tidak pandainya kita dalam mengelola waktu. Sebagian kita terlalu banyak membuang waktu, misal dengan menonton film, berbincang hal-hal tidak penting, atau bermain media sosial tanpa tujuan yang jelas. Sekali lagi, hal tersebut bukan masalah jika kita bisa membagi waktu secara proporsional, tidak berlebihan.
Waktu menjadi aset penting yang tidak tergantikan. Produktifitas dalam berkarya sangat bergantung pada waktu yang kita alokasikan. Tidak ada kata ‘tidak sempat’ jika kita telah mendisiplinkan membaca dan menulis setiap hari. Kemalasan dan ketidakpekaan kita dalam mengatur waktu, perlahan justru akan merusak. Maka, penting bagi kita untuk bisa menentukan prioritas serta menggerus distraksi yang mengganggu dalam hidup kita. Semoga kita dapat memanfaatkan dan bersikap adil terhadap waktu.
Produktif Menulis
