Tradisi mulia membaca, menulis, dan berkarya, sebagai bentuk merawat tradisi ulama, diterapkan secara efektif di dua pesantren tempat saya mengabdikan diri: Darus-Sunnah dan Daarut Tauhiid. Kedua pesantren ini memiliki kemiripan, di antaranya mendorong para guru tidak hanya sekadar mengajar, melainkan juga produktif berkarya.
Darus-sunnah, misalnya, secara rutin menerbitkan buku karya dewan guru setiap tahunnya dan diluncurkan ketika wisuda santri. Buku tersebut nantinya dijual, disebarluaskan, atau menjadi bahan ajar.*** Begitu pun SMA Adzkia Daarut Tauhiid, dewan guru memiliki program antologi yang disusun secara kolektif dan diterbitkan secara berkala selama beberapa tahun terakhir. Saya sangat bersyukur dapat terlibat, mengabdikan diri serta belajar banyak hal pada kedua lembaga pendidikan islam di Tangerang Selatan ini.Tidak hanya guru, santri pun didorong untuk produktif dalam berkarya.

Komitmen dalam membangun tradisi membaca, menulis, dan berkarya di kalangan santri dibuktikan dengan penyelenggaraan Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) di setiap tahunnya. Sidang KTI menjadi salah satu syarat kelulusan santri kelas akhir. KTI dikerjakan selama satu semester dengan pembimbing yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana. Pekan sidang KTI merupakan waktu yang begitu mendebarkan bagi para santri. Betapa tidak, hasil KTI yang selama ini mereka susun akan diujikan di hadapan tim penguji.
Selain itu, demi membangun iklim membaca yang terasa menyenangkan, kedua pesantren tersebut memiliki program Literasi Mandiri. Program ini memberikan waktu khusus bagi santri untuk membaca buku apapun yang mereka sukai, baik fiksi maupun nonfiksi. Darus-sunnah menyediakan waktu rutin dua kali dalam seminggu, selama 15 menit sebelum masuk kelas. Sedangkan Daarut Tauhiid menyediakan waktu rutin setiap hari Jumat, selama 90 menit, sebelum memulai pelajaran jam pertama.
Program ini bersifat wajib. Para santri dituntut untuk terbiasa menikmati buku bacaannya. Proses memahami, menalar, dan berimajinasi menjadi kegiatan menyenangkan. Di luar jam tersebut, santri tetap diberikan keleluasaan untuk membaca dengan mengakses buku-buku di perpustakaan. Mereka dapat meminjam dan membawanya ke asrama. Mereka dapat mengisi waktu senggangnya dengan membaca setiap hari.
Walhasil, sungguh besar harapan saya mengajak semua kalangan, terutama para guru dan santri, agar produktif dalam menulis dan berkarya. Sekecil apapun kebaikan yang kita hasilkan dari menulis, niscaya akan membawa kebermanfaatan dan kemaslahatan.
———————————————————-
* HR. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi
** Zein bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj as-Sawy, Dar al-Ilm wa al-Da’wah, Tarim, Hadhramaut, hlm.122
*** Darus-Sunnah mewadahi publikasi buku-buku keagamaan melalui lini penerbitan buku yang dinamai Maktabah Darus-Sunnah. Selain buku-buku Kiai Ali Mustafa Yaqub yang dicetak ulang dari penerbit sebelumnya, buku-buku dewan asatiz dan santri pun rutin diterbitkan melalui penerbit ini.
