Dari sini, tak heran jika dalam ilmu kelola hati (tasawuf), para salafus shalih selalu menganjurkan kita untuk selalu memiliki hati yang baik pada Tuhan dan orang lain. Khusnudzon. Ini penting agar kita tak terjebak sesatnya asumsi yang seringkali membawa kita pada hal-hal yang kurang baik dan tentu juga mudarat bagi orang lain.
Dan memang, membersihkan hati dan pikiran tak semudah membersihkan pakaian yang terkena kotoran. Tazkiyatul qolbi membutuhkan latihan panjang dan istikamah. Dan latihan ini tidak sama seperti ketika kita hari ini mampu menjaganya berarti kita sudah lulus, tidak begitu. Menjaga kejernihan hati dan pikiran adalah ujian sepanjang masa. Inilah juga yang masuk dalam dawuh Kanjeng Nabi “jihad al-kubro”, melawan hal-hal negatif yang muncul dalam diri. Nafsu yang menyesatkan manusia.

Bermasyarakat memang susah-susah gampang. Tapi jalan yang paling menyelamatkan adalah dengan selalu berusaha untuk memiliki hati dan pikiran yang baik.
Ada anekdot menarik, ketika Nasrudin Hoja mengajak anaknya untuk pergi ke suatu daerah dengan menggunakan keledai. Anda mungkin sudah pernah mendengar cerita ini. Baiklah, Anda memang lebih cerdas dan tentu jauh lebih tahu tentang cerita masyhur ini. Tapi sejenak mari sama-sama mentadabburi peristiwa ini. Betapa jika kaca mata kita hanya mampu melihat dari satu arah, tentu ini tidak baik untuk dijadikan kesimpulan. Kita perlu menjelajahi sudut-sudut yang lainnya, agar fair.
