Kiranya begitulah hidup. Seringkali kita sudah tidak fair sejak dari sudut pandang. Kita dipenjara oleh satu persepsi. Satu persepsi itu bisa jadi benar adanya, tapi belum cukup. Ibarat seseorang yang memandang seekor gajah hanya dari belalainya, ia bisa jadi tertipu dan menyangka itu ekor. Dan kemungkinan lain dan kemungkinan lain-lain.
Indahnya hidup, apalagi perihal bersosial bermasyarakat, adalah dengan kerendahan hati, dalam hal ini memandang hidup dan lakon manusia. Suatu hari ketika pertama kali mendengar adagium yang berbunyi, “berbaik sangkalah pada siapa pun, sebab orang yang berburuk sangka sungguh ia telah salah, dan salah meskipun kenyataannya benar, dan orang yang berbaik sangka, sungguh ia telah benar dan benar meskipun kenyataannya salah.”

Sulit bagi saya saat itu untuk mengiyakannya. Tapi melalui pengalaman dan beberapa peristiwa yang saya lihat dan baca, sedikit demi sedikit saya “takluk” pada adagium itu. Entah Anda. Saya tak sedang berkhotbah, ini hanya cerita saja. Jadi tak ada yang sedang menggurui atau digurui di sini.
Saya tutup tulisan ini dengan kisah ketika pertama kali Umar bin Khattab melawat ke Yerusalem (sebuah ekspedisi cum ekspansi wilayah Islam) untuk menandatangani kesepakatan gencatan senjata dan penduduk Palestina memilih menyerah secara damai dan patuh pada ketentuan sang khalifah. Saat itu Umar mengenakan baju satu-satu miliknya yang lusuh dan hampir penuh jahitan pergi bersama budaknya menggunakan unta. Ketika telah masuk ke wilayah Palestina, saat itu adalah giliran sang budak untuk menaiki unta, sementara Umar berjalan kaki di sampingnya. Syahdan, para penduduk menyambut dengan suka cita, dan mereka mengira si penunggang unta adalah sang khalifah. Betapa tertegunnya si budak dipuja-puja, sementara Umar bergeming. Semua salah sangka.
