Almarhum Kiai Syukri memiliki tiga putra dan putri. Mereka adalah Gus Dul, Gus Ad, dan Ning Ainun. Gus Dul sebagai anak pertama kini menjadi pengasuh pondok pesantren menggantikan ayahnya. Gus Dul memang layak menjadi penerus Kiai Syukri. Sejak sekolah dia sudah terkenal pintar. Di pesantren pun prestasinya gilang gemilang. Putra pertama Kiai Syukri itu juga dikenal sebagai sosok yang kharismatik. Pribadinya yang agung dan dibingkai dengan perangai sederhana membuatnya banyak dicintai orang.
Putra kedua Kiai Syukri adalah Gus Ad. Dia pernah nyantri ke sebuah pesantren di pedalaman Banyuwangi selama setahun. Selebihnya lelaki itu belajar agama pada ayahnya sendiri. Gus Ad sering keluar rumah, tanpa seorang pun tahu ke mana perginya. Masa belajarnya di ujung timur Pulau Jawa itu pun tidak banyak diketahui orang. Selain itu perangainya yang agak aneh sering menyita perhatian. Dia seringkali salat di masjid tanpa memakai baju. Lelaki itu juga jarang mau berbicara dengan orang lain. Walaupun demikian dia sering dimintai doa oleh orang kampung karena doanya terkenal mujarab. Sebenarnya dia tidak benar-benar berdoa. Ketika ada orang yang minta didoakan dia menyuruhnya pulang tanpa memberi doa apa pun. Kadang-kadang orang yang datang padanya pun dimarahi. Tapi anehnya setiba di rumah orang-orang itu merasakan hajat mereka kemudian terkabulkan.

Adapun anak terakhir Kiai Syukri adalah Ning Ainun, seorang gadis cantik dengan pesona yang nyaris membuat hati setiap lelaki tertarik ingin memilikinya. Dia masih sangat belia, baru lulus SMA dua tahun yang lalu. Beberapa bulan terakhir gadis itu berada di rumah karena pesantren tempat ia mengaji masih libur akibat pandemi yang belum juga kunjung usai. Keberadaannya di rumah akhir-akhir ini membuat para santri atau tamu yang kebetulan melihatnya gelisah.
Salah satu di antara tamu itu adalah Takim, putra seorang anggota DPRD yang pernah diajak ayahnya berkunjung ke pesantren Gus Dul. Saat itu mereka juga bermaksud minta doa pada Gus Ad untuk suatu keperluan, tapi putra Kiai Syukri itu tak mau membukakan pintu. Dalam kesempatan itu pula Takim secara tak sengaja melihat Ning Ainun yang tengah bermain bulu tangkis di samping rumah. Takim yang anak pejabat itu terkesima melihat kecantikan serta gerakan lincahnya. Tapi dia kebingungan bagaimana cara mengambil hati gadis itu.
“Apakah Ainun masih sendiri?” tanya Takim pada seorang santri di warung kopi depan pondok suatu saat.
“Wah, tidak tahu Mas. Sepertinya bersama saudaranya di rumah,” jawab santri itu polos.
“Maksudku status,” sahut Takim jengkel.
“Maksudnya?”
“Apakah dia sudah punya tunangan, atau masih sendiri?”
“Oh, kalau masalah itu tanyakan pada Gus Ad. Itu kebetulan orangnya lewat,” jawab santri tadi.
Takim ciut nyali mendengar nama Gus Ad disebut. Kakak kandung Ning Ainun itu sering menolak tamu. Dia juga dikenal mampu mengetahui apa yang ada di benak orang lain. Tidak ingin Takim mengulang kejadian tempo hari saat tidak dibukakan pintu. Sebagai keluarga pejabat dia merasa terhina sekali mendapat perlakuan tak menyenangkan itu. Perlakuan Gus Ad itu memang di luar dugaan, biasanya kedatangan pejabat kabupaten sekelas anggota DPRD selalu diharapkan oleh masyarakat. Tapi kini tiba-tiba dia ditolak oleh seorang lelaki berperangai aneh itu.
Lewatlah Gus Ad di depan warung kopi, tapi Takim hanya mengikuti langkahnya dengan pandangan mata. Sebenarnya sosok aneh itu mengusik dirinya; tak nyaman putra pejabat itu bersinggungan dengan putra kedua Kiai Syukri yang dikenal jadzab itu, tapi kecantikan adiknya-lah yang memaksa Takim mau tak mau harus berhubungan dengan keluarga ini, termasuk gus aneh itu. Dia juga berpikir jika sikap Gus Ad tetap seperti itu nanti akan menjadi aral bagi hubungannya dengan Ainun. Harus ada cara untuk melunakkan hatinya.
Takim merayu ayahnya untuk menyumbang pesantren. Dengan rayuan dan argumen apik, ayahnya pun menyetujui. Apalagi di musim pandemi begini banyak pejabat yang turun ke bawah menyalurkan belas kasihan serta uluran tangan. Berkantung-kantung plastik berisi masker disiapkan. Disinfektan dengan jumlah banyak pun juga disiapkan. Tidak hanya itu, ada juga sembako yang cukup banyak melengkapi bantuan itu. Takim sendiri yang memimpin rombongan menyalurkan bantuan, mewakili ayahnya. Takim memang melarang ayahnya ikut. Dia sendiri yang akan mengambil seluruh peran.
Sesampainya di depan pesantren rombongan itu tiba-tiba berhenti.
“Kenapa berhenti?” tanya Takim pada sopir dengan wajah keheranan.
“Memangnya ini belum sampai Mas? Masih jauh?” sahut sopir.
