Mengembara dalam Labirin Peradaban

Setelah puas berfoto dan mengambil video dengan HP, perjalanan diteruskan menuju Pantheon, suatu bangunan kuil kuno yang menjadi ekspresi dari kejayaan Roma. Bangunan kuno ini dibangun oleh Agrippa antara tahun 27 sampai 25 SM. Agrippa membangun kuil Pantheon setelah mengalahkan Marc Antony dan Cleopatra di Actium.

Setelah menang perang, Agrippa kembali ke Roma sebagai pahlawan dengan kekayaan melimpah. Pada saat itulah dia memulai proyek pembangunan berskala besar di tanah pribadinya. Ada tiga bangunan besar yang dibiayai secara pribadi, yaitu Pemandian Agrippa, Basilika Neptunus, dan Pantheon. Basilika dan Pantheon kemungkinan besar dibangun untuk kepentingan pribadi, yaitu untuk pemujaan Dua Belas Dewa dan Sovran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pantheon yang dibangun Agrippa diperkirakan musnah terbakar pada tahun 80 dan 110 M. Pada masa pemerintahan Kaisar Hadrian dibangun kembali di lokasi yang sama hingga berdiri bangunan baru pada tahun 125 M.

Selain Pantheon yang terbakar, Hadrian juga membangun tembok Hadrian yang menjadi pembatas Kekaisaran Romawi utara di Inggris. Atas jasanya mendanai pembangunan besar-besaran ini, Hadrian mendapat pujian dari rakyatnya. Bangunan yang masih terlihat saat ini diyakini sebagai hasil rekonstruksi yang dilakukan oleh Hadrian.

Pada tahun 608, Paus Bonifasius memerintahkan agar jenazah para martir yang berada di Katakombe Kristen dipindahkan ke Pantheon. Sejak saat itu kuil Pantheon yang dulunya menjadi simbol agama pagan Roma secara resmi diubah menjadi kuil Kristen dan diberi nama Saint Maria ad Martyres.

Meskipun kami sampai di Pantheon sudah menjelang senja, tapi masih banyak pengunjung yang datang di tempat ini. Antrean membeli tiket masuk masih terlihat panjang mengular. Kami tidak masuk ke dalam Pantheon, hanya foto-foto di luar sambil membaca beberapa teks yang menjelaskan sejarah Pantheon yang dipasang di papan informasi.

Setelah puas menikmati keindahan Pantheon yang unik dan eksotis, menjelang pukul 05.00 sore kami kembali ke KBRI. Meski badan terasa capek karena jalan kaki berkilo-kilo, namun batin terasa puas menjelajah kota tua dengan bangunan bersejarah yang inspiratif dan penuh dengan memori. Kami merasa misi kebudayaan kita semakin komplit karena tidak saja berhasil melakukan dialog antariman, tetapi juga dialog antarperadaban.

Tinggalkan Balasan