Santri, Kitab Kuning, dan Dialektika Kebangsaan

Pesantren dan kitab kuningnya bagaikan jasad dan ruh yang tidak dapat dipisahkan. Jika masjid, ruang kelas, dan bilik asrama merupakan wujud fisik pesantren, maka kitab kuning merupakan ruhnya yang dapat menentukan mati dan hidupnya pesantren.

Pesantren dan pemikirannya tidak hadir dari ruang hampa. Ia hadir melalui panjangnya dialektika keilmuan yang sudah mengiringi kehidupan para santri yang tidak lepas dengan peranan kitab kuningnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kitab kuning dan seisinya, oleh beberapa kalangan dapat diterima bahkan dipelajari dengan lebih mendalam lagi. Namun, kita tidak dapat menolak fakta, ada beberapa golongan yang menolak kitab kuning, bahkan memberikan stigma kolot kepada kaum pesantren yang selama ini menggeluti kitab kuning.

Dan ironisnya, mereka yang memberikan anggapan demikian tidaklah begitu paham akan isi kitab kuning di pesantren. Bahkan menyentuh pun mereka tidak. Dengan ketidakpahamannya, mereka mencari beberapa lompatan dengan membaca buku terjemahan sebagai tandingannya.

Perlu untuk mereka ketahui bahwa Muhammad Abduh, sosok mujaddid abad kedua, justru menganjurkan muridnya untuk mendalami al-Muwafaqat-nya al-Syathibi.

Atau, Rasyid Ridha yang menganut paham Wahabi itu adalah penulis Tafsir al-Manar yang justru banyak merujuk pada Tafsir ibnu Katsir (Nasuha, 2015). Mereka berdua, Abduh dan Rasyid Ridha, dalam karya-karyanya tidak lepas dari sentuhan kitab-kitab klasik yang dikaji di pesantren.

Dalam faktanya, kalangan pesantren dan pemikiran kritisnya yang dilatarbelakangi kitab kuning dapat berdialektika dengan kalangan nonpesantren. Masing-masing saling berkombinasi dengan keahliannya.

Tinggalkan Balasan