Mengenakan Toga, Merayakan Apa

Saya teringat satu malam saat menjelang kelulusan dari pesantren, salah satu guru saya berkata lirih. Kalimatnya sederhana, tapi begitu dalam. Sebab sejatinya, ilmu yang hakiki adalah yang melunakkan hati, bukan meninggikan kepala.

Sayangnya, dalam atmosfer pendidikan hari ini, kita lebih sibuk memburu validasi eksternal: ranking, akreditasi, medali, dan selempang. Kita tidak lagi terlalu peduli pada proses menjadi manusia yang seutuhnya. Padahal, betapa banyak orang berilmu tinggi tapi miskin empati. Betapa banyak gelar berserakan tapi adab terkikis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari ini kita rayakan wisuda. Tapi apa yang benar-benar kita rayakan? Apakah hanya transkrip nilai? Apakah sekadar lolos sidang skripsi? Atau sudahkah kita mensyukuri kesabaran saat bergelut dengan diri sendiri, mengalahkan malas, mengelola kecewa, hingga tetap teguh saat gagal?

Kelulusan seharusnya menjadi titik hening, bukan hanya titik puncak. Titik di mana kita merenung, mengoreksi, dan menetapkan arah: untuk apa ilmu ini nanti digunakan? Siapa yang akan kita bantu? Masih adakah rasa gentar dalam hati bahwa kelak ilmu ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Tinggalkan Balasan