Di Andalusia, misalnya, ketika mengucapkan “Wad-duha” menjadi “Wad-duhe”. Di Turki, “Mustaqiim” menjadi “Mustaqiin”. Di Padang berubah lagi, kalimat “Lakanuud” menjadi “Lakanuik”. Sampai di Jawa, “Al-hamdu: jadinya “ngalkamdu”.
Kenapa begitu, kata Gus Muwafiq, karena lidah satu orang dengan lidah orang lain di masing-masing daerah berbeda. Di sinilah penting adanya standarisasi pembacaan Al-Quran biar benar. Selain itu, dengan menggunakan standar bacaan Al-Quran yang baik dan benar, dapat meninggikan derajat keimanan seseorang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim seperti yang tersebut dalam hadis Arbain Nawawiyyah:

“Akan dikatakan kepada Ahli Quran pada hari kiamat: “Bacalah, naiklah (ke atas surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana kami dulu pernah membacanya di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu di surga terdapat pada akhir ayat yang kamu baca.”
Dengan demikian, bagaimana kita akan menaiki tangga di surga kelak sementara bacaan kita berantakan? Maka, di sinilah salah satu pentingnya mempelajari buku luar biasa yang ditulis oleh salah satu pakar qiraat dan dosen di IIQ Jakarta ini. Kehadiran buku ini akan membantu kita dengan mudah memahami kesulitan dalam ilmu tajwid. Begitupun dengan para guru Al-Quran. Dengan membacanya dan memilikinya, akan semakin terbantu dengan kehadirannya untuk menjelaskan kepada para murid terkait kekeliruan dalam membaca Al-Quran yang selama ini tidak disadari secara turun-temurun.
