Mbah Moen kemudian menambahkan informasi mengenai gambaran umum mulai dari perkembangan pondok pesantren di Jawa, kurikulum kitab-kitab yang dijadikan bahan ajar, hingga geliat para santri yang belajar di Mekkah dan kembali ke Indonesia dengan membawa pengaruh yang signifikan bagi pendidikan Islam di lembaga pesantren.
Lebih lanjut, Mbah Moen mengungkapkan alasan mengapa Sarang dijadikan sebagai objek utama penulisan kitab Tarājim ini. Ya, karena Sarang merupakan tempat kelahirannya. Tempat awal dan akhir di mana beliau bersinggungan dengan khazanah ilmu-ilmu keislaman.

Kitab Tarājim merupakan kumpulan kisah yang memotret tentang sejarah kehidupan dan kiprah kiai-kiai Pondok Pesantren Sarang, mulai dari awal pendirian hingga masa pembaharuan (‘ashr tajdīd), yakni tahun 1341 hijriah. Aspek biografi yang diulas dalam kitab ini meliputi: masa kelahiran, rekam jejak pendidikan, potret keluarga, sifat dan karakteristiknya, karya-karyanya, dan masa kewafatannya.
Terdapat empat belas kiai Sarang yang dinarasikan Mbah Moen dalam kitab Tarājim ini. Beliau-beliau adalah Kiai Ghazali bin Lanah, Kiai Umar bin Harun, Kiai Syu’aiub bin Abdurrazaq, Kiai Fathur Rahman bin Ghazali, Kiai Ahmad bin Syu’aib, Kiai Murtadlo bin Muntaha, Kiai Abdullah bin Abdurrahman, Kiai Dahlan bin Warijo, Kiai Imam Kholil bin Syu’aib, Kiai Zubair bin Dahlan, Kiai Abdus Syakur bin Muhsin, Kiai Kholil bin Harun, Kiai Baidlowi bin Abdul Aziz, dan Kiai Maksum bin Ahmad bin Abdul Karim.
Empat belas kiai-kiai tersebut sepanjang hayatnya telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tumbuh berkembangnya Pondok Pesantren Sarang. Bahkan, alumninya terbilang banyak yang berhasil dalam belajar, hingga menjadi mitra penerus estafet dakwah di semenanjung kepulauan di Indonesia.

MasyaAllah Tabarakallah semoga ada KH. Maimun Zubair lagi di negeri ini
امين