Menggapai Saadah Melalui Khidmah

Pada acara “Haflah Khotmil Quran Maat Tafsir dan Bil Ghoib” yang diadakan oleh Pondok Pesantren An Najah, Tanjungrejo, Jekulo, Kudus pada Kamis-Jumat (29/02 – 01/03), terdapat suatu agenda yang menarik. Agenda tersebut adalah Sarasehan Santri dan Alumni An Najah yang dilaksanakan pada malam Jumat.

Namun, bukan sarasehan biasa. Sarasehan kali ini membincang suatu tema yang sangat akrab di telinga para santri, yakni khidmah, lebih lengkapnya “Menggapai Saadah Melalui Khidmah”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain santri, alumni, dan juga pengasuh ponpes, acara ini dihadiri oleh Ustaz Nur Akhwan, seorang Dewan Perumus Bahtsul Masail Lirboyo sebagai pembicara, dan juga Ustaz Ahmad Syaerozi, dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus sebagai moderator.

Pada acara kali ini, terdapat beberapa poin bahasan yang terdengar unik dan juga penting. Untuk itu, berikut adalah inti daripada bahasan yang disampaikan pada acara malam itu.

Landasan Khidmah

Landasan adanya khidmah adalah ayat yang berbunyi

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dari sini, sudah jelas bahwa tujuan manusia hidup di muka bumi hanyalah untuk berkhidmah kepada Allah, yakni dalam bentuk beribadah kepadaNya. Untuk itu, harusnya kita sadar akan posisi kita di hadapan Allah sehingga kita tidak boleh menyepelekan ibadah.

Definisi Saadah

Dibuka dengan definisi, saadah yang berarti kebahagiaan adalah hal yang diinginkan setiap orang. Untuk membatasi definisi, saadah terbagi menjadi dua, yakni saadah dzahir dan saadah batin. Setiap saadah tersebut dibagi lagi menjadi dua, yaitu saadah duniawi dan saadah ukhrowi.

Sesuai namanya, saadah dzohir duniawi merupakan hal-hal kasat mata seperti kenikmatan duniawi, sedangkan saadah dzohir ukhrowi adalah selamatnya jasad kita dari siksa api neraka.

Adapun saadah batin duniawi adalah tenangnya hati yang bisa didapatkan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan saadah batin ukhrowi adalah kesempatan untuk ‘melihat’ Allah yang merupakan kenikmatan atau saadah yang paling tinggi bagi penghuni surga dan hanya bisa digapai oleh orang-orang mukmin.

Korelasi Saadah dengan Khidmah

Untuk menghubungkan saadah dengan khidmah, tentu tidak asing dengan ungkapan yang populer di kalangan santri yang berbunyi, “Menancapnya ilmu dengan mudzakarah (belajar), barokahnya ilmu dengan khidmah, dan manfaatnya ilmu dengan taat pada guru.”

Dari ungkapan di atas, yang akan kita bahas adalah khidmahnya. Karena sejatinya, saadah dan barokah merupakan hal yang mirip, dalam artian sama-sama mengandung kebaikan yang diinginkan semua orang.

Untuk mendefinisikan barokah, narasumber mengutip penjelasan dari Syaikh Syarani Mutawalli yang menerangkan bahwa barokah adalah tentara Allah yang dikirim kepada hamba pilihan Allah.

Dari definisi di atas, narasumber kembali memberi contoh, “Sehingga barokah dalam umur berupa panjangnya umur, barokah dalam ilmu adalah bertambahnya ilmu, dan barokah dalam khidmah adalah terbukanya hati (futuh).”

Selain itu, narasumber juga mengutip penjelasan Habib Lutfi bin Yahya yang menerangkan bahwa barokah dalam manfaat ibarat garam dalam setiap makanan. Artinya, setiap makanan tidak akan menjadi lezat tanpa hadirnya garam. Demikian pula, suatu kemanfaatan tidak akan menjadi baik tanpa disertai barokah.

Contohnya, ketika kita bisa memasak nasi goreng, maka sejatinya kita telah mendapatkan manfaat. Namun masalah rasanya akan lezat atau tidak, itu tergantung dari takaran garam sebagai bumbu nasi goreng tersebut.

Indikator Keberkahan

Sampai sini, bagaimana cara kita mengetahui hal ini mengandung barokah atau tidak? Siapa yang menentukan indikatornya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terdapat kisah yang cukup unik.

Dikisahkan bahwa terdapat makam wali yang tak pernah sepi dari ziarah masyarakat. Masyarakat bertawasul melalui makam tersebut, dan hajat mereka pun terpenuhi.

Namun, belakangan baru diketahui bahwa makam tersebut sesungguhnya hanyalah kuburan khimar.

Tinggalkan Balasan