yang menunjukkan bahwa nahi munkar dengan hati adalah bentuk keimanan yang paling lemah. Pada lafaz di atas kata adh’afu merupakan isim tafdhil yang menunjukkan makna perbandingan dan juga superlatif, dalam hal ini memiliki makna ‘paling lemah’.
Namun, ternyata ada sebagaian kalangan yang membaca

فهو أضعاف الإمان
Yang menunjukkan bahwa nahi munkar dengan hati adalah interperstasi keimanan yang berlipat ganda. Pada lafaz di atas, kata adh’aafu berbentuk masdar yang artinya ‘berlipat ganda’.
Selain itu
, orang yang nahi munkar dengan kekuasaan dan lisan, bisa saja hatinya tidak ingkar.
Khidmah Setelah Boyong
Khidmah yang sesungguhnya dan yang terberat adalah khidmahnya santri setelah boyong, karena ketika berada dalam lingkungan masyarakat, seorang santri harus senantiasa mengingat dan meneladani gurunya.
Salah satu bentuk mengingat guru adalah dengan sering menceritakan haliyah guru, menjelaskan bahwa ilmu ini didapat dari guru, sehingga muncul rasa bangga terhadap guru.
Selain itu, menceritakan guru juga menjadi suatu contoh yang akan ditiru murid-murid yang diajar agar kelak juga melakukan hal yang sama.
من بركة العلم إسناد القول إلى قائله
Tiga Unsur Khidmah
Untuk melaksanakan khidmah dengan baik, diperlukan tiga unsur berikut ini.
Yang pertama adalah loyalitas dan totalitas, yaitu mementingkan kepentingan guru daripada kepentingan pribadi. Hal tersebut adalah inti dari khidmah itu sendiri.
Khidmah ini sudah dicontohkan oleh Kaum Anshor yang meskipun juga kekurangan, mereka tidak ragu sama sekali untuk membantu Kaum Muhajirin dalam segala aspek.
Terkait loyalitas, hal yang perlu dijaga adalah niat dalam berkhidmah. Jika khidmah dilakukan dengan niat keuntungan pribadi, maka itu bukanlah khidmah, karena sejatinya, khidmah adalah memberi manfaat, bukan mencari keuntungan, terlepas dari faedah-faedah khidmah. Maka, jangan sampai menjadikan hal itu sebagai tujuan utama, namun harus menjaga niat agar loyal dan total.
Yang kedua adalah menjalankan tugas sesuai peran.
Kita sebagai manusia, tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang perlu kita lakukan dalam berkhidmah adalah memanfaatkan potensi yang kita miliki untuk berkhidmah. Jadi, jangan merasa sedih karena tidak bisa berkhidmah seperti santri yang lain karena kita memang tidak memiliki keahlian di bidang tersebut.
Di balik itu, kita pasti punya kemampuan yang kita kuasai dan bisa kita manfaatkan untuk berkhidmah.
Selain itu, sejatinya, kesempatan berkhidmah adalah sebuah kemuliaan yang diberikan guru kepada para santri. Maka, jika kita diberi kesempatan untuk berkhidmah, maka hendaknya ditekuni sesuai kemampuan.
Yang ketiga adalah ikhlas. Sudah maklum bahwa yang dimaksud ikhlas adalah beramal murni karena Allah, tidak mengharapkan apapun selain ridho Allah.
Dalam hal ini, jangan sampai khidmah yang kita lakukan dilandasi niat untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
Mengapa Harus Berkhidmah?
Meskipun khidmah secara dzohir adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan guru, namun sejatinya, esensi khidmah adalah demi kepentingan murid. Dengan khidmah, akan terbentuk jalinan batin antara guru dan murid.
“Dengan itu, murid akan lebih terjaga karena akan ditegur guru ketika melakukan kesalahan ataupun sedang membutuhkan pencerahan, baik secara langsung maupun melalui mimpi, sebagaimana kisah-kisah masyhur para ulama,” tutur narasumber.
Manfaat Khidmah
Selain menjadi sarana latihan dalam terjun untuk ‘ngeladeni’ masyarakat, khidmah juga masyhur dapat menjadi sebab terbukanya hati (futuh).
