Mengetahui fakta tersebut, disertai dengan kenyataan bahwa tawasul orang-orang juga sampai, maka sesungguhnya barokah berkaitan erat dengan keyakinan dan juga husnuzon, sebagaimana para peziarah yang meyakini dan husnuzon bahwa yang mereka ziarahi tersebut adalah makam wali, dan pada akhirnya tawasul mereka sampai, meskipun kenyataannya yang mereka ziarahi hanyalah khimar.
Selain kisah peziarah khimar, ada kisah yang menunjukkan bahwa sejatinya barokah itu terletak pada keyakinan dan juga husnuzon.

Ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, “Bagaimana agar hatiku bisa terbuka (futuh)?”
Sang guru menjawab, “Belajarlah pada Syaikh Fulan yang ada di desa itu.”
Murid pun pergi ke tempat tujuan dan ternyata nama fulan dimiliki oleh dua orang. Yang satu alim, dan yang lain merupakan pemabuk berat.
Dengan yakin, murid pun berguru kepada fulan yang pemabuk dan berhusnuzon bahwa sikap fulan yang suka mabuk itu adalah ujian bagi dirinya dalam berguru.
Pada akhirnya, murid tersebut tetap mendapat futuh, meskipun berguru kepada seorang pemabuk. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena keyakinan dan husnuzonnya.
Khidmah dan Mahabbah
Membincang khidmah, erat juga kaitannya dengan mahabbah atau cinta. Karena dengan mahabbah akan menjadikan kita selalu berhusnudzon kepada sang guru.
Mahabah sangat diperlukan, karena yang perlu kita teladani dalam berkhidmah bukan hanya sisi kemanusiaan atau dzohirnya, namun juga sisi batinnya yang terkadang akal kita tidak mampu memahami beberapa sikap guru.
Terkait khidmah, tentu kita tidak asing dengan kisah Abu Bakar yang mengorbankan kakinya untuk melindungi Nabi dari ular yang hendak keluar dari lubangnya ketika sedang berisitirshat di Gua Tsur pada perjalanan hijrah.
Dari kisah tersebut, dapat diketahui bahwa khidmah juga butuh yang namanya pengorbanan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar.
Macam-Macam Khidmah
Sebagai sarana dalam menggapai saadah, khidmah terbagi menjadi tiga.
Yang pertama adalah khidmah dengan badan. Sesuai namanya, khidmah ini lebih cenderung berusaha melayani guru secara dzohir sesuai kemampuan. Biasanya, khidmah model ini biasa dilakukan oleh para ‘santri ndalem’.
Meskipun terdengar sederhana, khidmah dengan badan memiliki tantangan tersendiri. Karena, ketika seorang santri sering berkhidmah dan menjadi lebih dekat dengan guru, maka akhlak yang ada bisa saja juga semakin hilang, sebagaimana kita yang tidak punya malu di hadapan teman akrab, dan menjadi pemalu di depan orang asing.
Dalam hal khidmah, hal tersebut tidak boleh terjadi, karena berkurangnya akhlak ketika berada dekat dengan guru adalah hal yang bertentangan dengan konsep khidmah itu sendiri.
Jika tidak, maka seorang santri termasuk dalam ungkapan, “semakin dekat, semakin menjauh.” Artinya, semakin dekat dengan guru, semakin hilang akhlaknya.
Yang kedua adalah khidmah dengan harta. Khidmah model ini cukup dilakukan dengan menyalurkan harta kita untuk kepentingan guru kita. Contoh model ini adalah menyisihkan uang untuk ‘sowan’ setiap tahun, maupun menyumbang kebutuhan guru, baik kebutuhan sehari-hari maupun pada acara-acara tertentu.
Yang ketiga adalah khidmah dengan doa. Khidmah ini adalah yang terdengar paling mudah, karena kita hanya perlu mendokan kebaikan untuk guru kita, sebagaimana yang dilakukan Imam Ahmad bin Hambal yang selama 40 tahun selalu mendoakan gurunya, yakni Imam Syafii.
Narasumber menambahkan bahwa, “Meski terdengar paling mudah, namun khidmah dengan doa adalah khidmah yang paling sulit. Karena, seuatu yang mudah malah kebanyakan tidak dilakukan.”
Ungkapan narasumber tersebut dikuatkan dengan hadis nahi munkar yang intinya memerintahkan kita untuk mencegah kemungkaran semampu kita, baik dengan tindakan, lisan, maupun hati.
Dalam hadis tersebut, terdapat lafaz
فهو أضعف الإيمان
