Memang ada satu-satumya akses jalan raya umum di mana santri putra dan putri bisa berpapasan, yaitu jalan menuju sekolah. Karena gedung sekolah berada di luar pondok dan harus menyeberang jalan raya yang masih ada dalam areal pesantren. Nah, di situlah kesempatan mereka untuk sekadar cuci mata meski tidak kurang dari lima menit. “Dosa dikit, kan belum lima menit,” demikian celoteh mereka saat itu berdasarkan pengalaman penulis saat mondok.
Dan yang membuat para santri panas dingin adalah karena di pojok jalan raya tersebut ada posko pengurus keamanan yang hampir 24 jam mengawasi kami. Laksana malaikat Raqib dan Atid yang selalu mengintai setiap saat. Waktu itu mungkin perasaan kami para santri tidak sekadar karena takut dosa, tapi lebih karena tatapan pengurus pondok di dalam posko keamanan yang seolah-olah hampir tidak berkedip sedetik pun mengawasi kami.

Para pengurus tersebut merupakan santri senior yang juga mempunyai tanggung jawab atas kehidupan pribadi sehari-hari, seperti harus memasak, mencuci pakaian, ngaji kitab, mengantre mandi, masuk kuliah, dan beberapa tanggung jawab lainnya. sehingga pada saat-saat tertentu terkadang posko tersebut tidak ada yang berjaga-jaga. Nah, pada saat itulah si santri-santri junior “nakal” ini biasanya beraksi.
Salah satu contoh aksi gaya pacaran “oknum santri” tersebut adalah lempar-lemparan surat atau bahkan foto yang tentu sudah dipersiapkan sebelumnya. Atau, surat-surat tersebut mereka selipkan di pagar bambu atau juga di bawah batu yang telah sama-sama diketahui dengan cara isyarat saat mereka bertemu di persimpangan jalan raya tersebut. Tak ada satu katapun yang terucap saat mereka berpapasan, karena sanksi berbicara dengan santri lawan jenis tidak tentunya ringan. Oleh karena itu si oknum santri tersebut harus celingak-celinguk untuk memastikan keberadaan pengurus keamanan, yang sering mereka sebut sebagai malaikat Munkar dan Nakir-nya pondok. Astaghfirullah!
Gaya pacaran lainnya yaitu “si oknum santri” bisa telepon-teleponan lewat wartel (warung telepon yang saat ini sudak ada lagi). Namun hal itu hanya bisa dilakukan saat salah satu santri sedang pulang ke rumahnya. Karena jika melalui telepon kantor pesantren jelas hal itu sangat mustahil karena bisa disadap langsung oleh pengasuh dan pengurus karena telepon tersebut bersifat paralel.
Kejadian di atas ternyata tidak luput dari perhatian para pengasuh dan pengurus. Sehingga tak kekurangan akal, pihak pengurus bekerja sama dengan pihak wartel agar menyediakan telepon penyadap untuk memantau “santri nakal” tersebut. Dan dari tindakannya itu, pihak wartel akan mencatat nama-nama santri yang melangggar dan melaporkannya kepada pihak pondok. Sanksi pun menanti. Oh!
