Kejadiakan lain yang menggelikan yaitu saat “surat salah sasaran”. Waktu itu, di pondok penulis ada dua nama yang sama, katankalan “Acha” (bukan nama sebenarnya). Keduanya juga sama-sama suka nyerempet-nyerempet bahaya, nekat pacaran. Teman-teman santri biasa menyebut salah satunya Acha A, dan Acha B untuk yang satunya lagi.
Suatu hari saat berangkat sekolah Acha A dan teman-teman lainnya yang ada dalam satu geng, memeriksa pagar bambu dan batu, siapa tahu ada surat yang terselip di sana. Waktu itu kebetulan tidak ada Acha B, dia terlambat berangkat sekolah. Dan benar saja ada satu surat baru di situ. Di luar amplop tertulis “Untuk Acha-ku sayang”. Di situ tidak tertera Acha A ataupun B. Sontak saja, Acha A menganggap surat tersebut untuk dirinya. Dengan ke-GR-an ia pun menjajakan suratnya kepada teman-teman se-geng-nya, lalu merekapun membaca bersama-sama.

Kebetulan santri putra yang mengirimkan surat tersebut merupakan santri favorit yang di idam-idamkan kaum hawa, karena selain memiliki wajah yang rupawan, Rasyid (bukan nama sebenarnya) juga seorang qari bersuara merdu yang cukup populer. Selain itu, ia kerap mengisi tulisan di majalah pesantren, baik majalah sastra, keagamaan, dan yang lainnya. Rasyid yang dikenal kalem, pintar, dan alim nyatanya berani juga melanggar aturan pesantren. Setelah dikonfirmasi oleh salah satu santri putri yang mengenalnya, namanya Aisyah (bukan nama sebenarnya), ternyata betul surat tersebut dari si Rasyid. Dan ia pun mengakuinya. Namun sialnya, surat yang Rasyid maksud bukan untuk Acha A, namun untuk Acha B. Hah!
Rasyid yang kecewa pun berjanji tidak mau pacaran lagi. Dia merasa kapok sendiri, karena selain menyesal karena salah sasaran, hal itu juga mengganggu konsentrasi belajarnya, prestasi di sekolahnya pun menurun dan kegiatan-kegiatan ekstra kurikulernya juga terganggu. Dan konon katanya juga, si Acha A benar-benar tidak mengetahui rahasia memilukan itu.
Dari kejadian tersebut penulis beranggapan bahwa pesantren tidak semena-mena membuat peraturan dan juga larangan, terutama masalah pacaran. Karena larangan tersebut dimaksudkan agar para santri berkonsentrasi penuh terhadap pelajaran di sekolah dan di pondok. Survei juga membuktikan bahwa santri yang suka pacaran dengan santri yang tidak pacaran membuat prestasi mereka sangat jauh berbeda.
Santri yang tidak suka pacaran lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal posisif seperti aktif di OSIS, rutin membaca di perpustakaan, rajin mengirim tulisan ke majalah dan mading pesantren, mengikuti acara-acara seminar, pelatihan-pelatihan, kelompok-kelompok kajian, kursus-kursus, dan lain sebagainya.
