Pada masa penjajahan, ashabiyah ini memungkinkan masyarakat Samin untuk bersatu dalam sikap penolakan terhadap pajak kolonial dan kebijakan lain yang dianggap merugikan rakyat. Karena kekuatan solidaritas mereka, aparat kolonial kesulitan memecah-belah komunitas ini. Mereka tidak mudah diadu domba, karena diikat oleh ashabiyah yang kokoh.
Menariknya, hingga era modern, komunitas Samin tetap mempertahankan pola ashabiyah kekerabatan dan komunal ini. Di tengah masyarakat yang kian individualistis, komunitas Samin justru menjadi contoh bagaimana kohesi sosial berbasis kekerabatan dan gotong royong masih sangat relevan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Sebenarnya tidak hanya komunitas Samin, masyarakat perdesaan pun juga masih mempertahankan hal tersebut.

Ashabiyah Ideologis dan Filosofis
Jika ashabiyah kekerabatan dan komunal berfungsi sebagai fondasi sosial, maka ashabiyah ideologis dan filosofis menjadi roh yang memberi arah, makna, dan daya tahan pada komunitas Samin.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa seiring berkembangnya sebuah kelompok, ashabiyah dapat bertransformasi dari sekadar solidaritas kekerabatan menjadi ashabiyah berbasis ideologi atau nilai-nilai bersama. Di fase ini, kekuatan kelompok tidak lagi semata ditopang oleh darah dan ikatan keluarga, tetapi oleh kesamaan visi, misi, dan prinsip hidup.
Inilah yang tampak jelas dalam masyarakat Samin. Lebih dari sekadar komunitas adat yang mempertahankan gaya hidup tradisional, masyarakat Samin adalah komunitas yang diikat oleh ashabiyah ideologis yang sangat kuat. Inti dari ajaran Samin Surosentiko bukan hanya perlawanan terhadap pajak atau kolonialisme, melainkan filosofi hidup yang sangat khas.
“Ora oleh drengki srei, dahwen, kemaren, sing rukun sing apik, ojo pek pinek wenehe liyan”
(Tidak boleh iri dengki, mencerca satu sama lain, tidak boleh iri dengan orang lain, hidup yang rukun dan baik, jangan mengambil hak orang lain).
Dalam terjemahan sederhana, ajaran ini mengingatkan kita untuk tidak iri dan dengki, tidak mencerca orang lain, hidup dalam kerukunan, serta menjaga hak milik orang lain. Namun bila direnungkan lebih dalam, ajaran ini adalah fondasi moral yang menumbuhkan ashabiyah ideologis yang justru menjadi kekuatan sejati masyarakat Samin.
