Penulis pemula seringkali meniru karya para penulis favoritnya, bisa jadi tidak semua. Tentunya, sebagai penulis sendiri perlu menentukan gaya penulisan sesuai dengan tema yang ingin ditulis. Seperti, saat menulis artikel-artikel mingguan akan tampak kaku jika menggunakan gaya bahasa resmi. Pembaca sulit memahami gagasan. Dan dalam membentuk gaya penulisan yang khas, satu-satunya solusi hanya jam terbang penulis. Semakin banyak berlatih maka akan semakin mahir.
Gaya penulisan lekat dengan pemilihan diksi. Ide atau gagasan tak dapat tersampaikan tanpa bekal kosa kata yang melimpah. Penulis memang harus memiliki banyak kosa kata. Tema atau topik yang bertebaran boleh sama namun yang membedakan ialah teknik penyampaiannya.

Karya yang baik tentu tidak hanya memberi wawasan baru melainkan menggugah emosi pembaca. Emosi tersebut dibangkitkan oleh teknik bercerita penulis atau pengarang. Di bukunya, Ahmad Rifa’i Rif’an turut menyoroti kekhasan diksi, gaya bahasa, dan penggunaan humor dalam buku Ippho Santoso yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.
Menulis merupakan salah satu keterampilan penting yang butuh dikuasai. Buku ini bagian dari seri buku Generasi Emas. Sebab, menjadi orang besar hanya butuh dua syarat; menjadi penulis atau menjadi pribadi yang kisahnya layak ditulis.
Sudah saatnya, generasi muda yang memiliki kreativitas tinggi, ide-ide besar mengekalkan gagasan, menularkan ilmunya dalam tulisan, mengubah noise menjadi voice Dan di dalam buku ini kita juga disuguhi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul pada beberapa forum yang dihadiri si penulis.
Data Buku
Judul Buku: Generasi Menulis
Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: Quanta
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 201
ISBN: 978-623-00-1406-2
