Ketiga, kita harus menjadi pribadi pemaaf. Dengan selalu memaafkan kesalahan orang lain, kita akan menjadi terhalang untuk menyebarkan aibnya. Seorang penyair pernah mengatakan, “Siapa orang yang bisa engkau terima semua sikap hidupnya? Cukuplah seseorang itu dikatakan mulia bila aibnya bisa dihitung.”
Ulama Ja’far ibn Muhammad pernah memberi nasihat kepada anaknya demikian: “Wahai anakku, siapa di antara teman-temanmu yang marah kepadamu sebanyak tiga kali, dan yang dikatakannya adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, maka jadikanlah ia sebagai temanmu.”

Kemudian, al-Hasan ibn Wahab pernah berkata: “Di antara hak-hak mencintai adalah memberi maaf terhadap kesalahan teman, dan menutup mata atas kekurangannya.”
Jika nasihat-nasihat tersebut kita jadikan pegangan, kita akan terbebas dari perilaku buruk berupa penyebaran aib atau hoax melalui medsos.
