Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran zaman, bahasa daerah atau bahasa ibu perlahan mulai kehilangan tempatnya di ruang tutur generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bhavanastra Kelompok 127 berkolaborasi dengan Karang Taruna RW 08 dan Al-Zastrouw Library menggelar Seminar Literasi Bahasa & Kebudayaan bertajuk “Melu Dongeng, Nyuk” pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Berlokasi di Kantor Al-Zastrouw Library X Adakopi Satulagi, di Serua, Depok, Jawa Barat, kegiatan ini mengusung tema besar “Indonesia, Kemerdekaan, dan Hilangnya Bahasa Ibu”. Acara ini dirancang hangat dan interaktif dengan menyasar peserta yang terdiri dari Ibu-Ibu dan anak-anak (warga Taman Serua) serta Karang Taruna 08.

Acara menghadirkan narasumber pendongdeng Devina Febrianti. Acara dipandu oleh moderator Alasti Elva Mentari, Lc., MA. Dalam forum ini, Devina menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari kedaulatan wilayah dan politik, melainkan juga dari sejauh mana bangsa ini merawat keberagaman bahasa daerah sebagai benteng identitas budaya.
Di tengah kepungan bahasa global dan jargon populer modern, bahasa ibu sering kali terpinggirkan dari percakapan sehari-hari. Padahal, melalui tuturan bahasa ibu itulah nilai-nilai moral, kearifan lokal, serta memori kolektif suatu masyarakat diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk mengikis batas dan kesan kaku dalam pembelajaran kebudayaan, dongeng dipilih sebagai media utama dalam kegiatan ini. Pendekatan tutur cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga terbukti efektif menjembatani komunikasi emosional yang hangat antara ibu dan anak.
Melalui untaian kata, alur cerita yang imajinatif, dan intonasi khas, dongeng mampu menyampaikan pesan-pesan filosofis serta mengenalkan kembali kekayaan tutur bahasa ibu secara natural tanpa kesan menggurui. Dengan begitu, anak-anak diajak untuk mencintai serta bangga menuturkan bahasa daerahnya sejak dini dari lingkungan terdekat mereka, yaitu rumah tangga.
Acara makin meriah, penuh keceriaan pada sesi mendongeng interaktif dimulai. Selama setengah jam, ikatan ibu dan anak dipererat lewat tuturan cerita rakyat bernuansa lokal yang mengajak anak-anak mencintai kembali bahasa daerahnya.
Acara ditutup pada pukul 17.00 WIB, seluruh peserta, panitia, dan narasumber memanfaatkan jeda istirahat, salat, dan makan bersama hingga pukul 19.00 WIB untuk mempererat silaturahmi. Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih syahdu dan kontemplatif dalam gelaran Semaan Puisi bersama narasumber Zaky Mubarok.
Berlangsung hingga pukul 22.00 WIB, sesi malam ini menjadi ruang apresiasi sastra tempat para mahasiswa, pemuda Karang Taruna, dan warga merenungkan kembali identitas kebudayaan serta kebahasaan lewat bait-bait puisi yang diresapi secara mendalam hingga penutupan acara.
Melalui perpaduan antara edukasi dongeng bagi anak-anak dan perenungan puisi untuk generasi muda, kegiatan ini diharapkan dapat menyulut kembali kesadaran masyarakat dalam merawat dan menuturkan bahasa ibu di lingkungan keluarga maupun komunitas.
