Foto KH Hasyim Asy’ari bersurban hijau, yang beredar luas di kalangan Nahdliyyin dan menjadi “foto resmi” keluarga Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, bersumber dari sebuah lukisan. Dari situlah foto lukisan Mbah Hasyim tersebut kemudian banyak direproduksi, baik dalam bentuk lukisan baru maupun foto. Melalui perjalanan panjang, lukisan tersebut akhirnya menjadi ikonik.
Siapa pelukisnya? Di mana sekarang lukisan aslinya? Adakah lukisan-lukisan yang lain yang mengabadikan sosok Mbah Hasyim?

Beruntung, tanpa direncanakan, saya diperkenalkan dengan pelukisnya. Namanya Badrie, seorang pelukis figuratif-realis.
Ceritanya, malam setelah acara pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026), saya berada di Tebuireng. Saat itu, KH Riza Yusuf alis Gus Riza, cucu Mbah Hasyim dari KH Yusuf Hasyim, memperkenalkan seseorang yang disebutnya pelukis, yang melukis figur Mbah Hasyim. Ya itu tadi, Badrie namanya. Saat itu juga saya minta izin untuk wawancara dengan sang pelukis, dan Gus Riza mengangguk.
Saya pun melakukan wawancara sampai menjelang subuh. Setelah istirahat, Jumat pagi disambung wawancara lanjutan.
***
Badrie kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 30 Oktober 1961. Ia pernah kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Namun, ketika belajar di lembaga pendidikan yang sekarang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut, Badrie tidak mengambil jurusan seni rupa, melainkan teater. Ia belajar melukis justru setelah keluar dari IKJ.
Ceritanya, karena kesulitan masalah ekonomi, Badrie akhirnya putus kuliah, lalu kerja serabutan di Jakarta. Tapi dari situlah proses pembentukan dirinya sebagai pelukis mulai terbangun. Saat itu ia bekerja sebagai pelukis poster film, dan secara informal belajar melukis dari pelukis Miftah A Hadi. Dari proses itu, Badrie memiliki fondasi kuat bagi ketelitian visual dan penguasaan anatomi yang kelak menandai karya-karyanya.
Dekade 1980-an Badrie pulang kampung, mulai menjalani kehidupan sebagai pelukis di Jawa Timur. Selain mulai melukis, Badrie aktif di komunitas seni dan merintis pendirian Pondok Seni Batu. Bersama komunitas ini, ia mulai terlibat dalam berbagai pameran bersama sejak dekade 1980–2000-an di sejumlah kota di Jawa. Hal tersebut menjadi fase penting dalam pembentukan identitas artistiknya.
***
Badrie sendiri tak pernah membayangkan dirinya kelak bakal melukis sosok Mbah Hasyim, sampai satu peristiwa menyakitkan terjadi pada akhir 1990-an. Saat itu, di Pasuruan terjadi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok Nahdliyyin terhadap kelompok lain.
Di matanya, karakter warga Nahdliyyin tidak seperti itu. Karakter dasar warga Nahdliyyin itu selalu teduh dan mengayomi. Ia ingin peristiwa seperti itu tak terjadi lagi; warga Nahdliyyin harus tetap menjunjung adab dan akhlak, teduh dan mengayomi.
