Menjalankan Misi, Menggali Inspirasi

Dari situs sejarah dan bangunan kuno yang antik dan eksotik, kami belajar tentang pentingnya peradaban. Di Roma dan Vatikan, situs-situs sejarah dan bangunan kuno dirawat dan dipelihara dengan baik, sekalipun letaknya  berada di tengah-tengah kota yang secara bisnis memiliki nilai ekonomi tinggi. Di sana, situs dan benda-benda tersebut dianggap sebagai simbol ketinggian peradaban yang dapat meningkatkan kebanggaan dan harkat martabat bangsa. Selain itu, situs-situs tersebut juga menjadi referensi hidup dan sumber pengetahuan bagi setiap generasi yanag ada di sana.

Yang menarik, situs dan bangunan kuno ini juga menjadi sumber pendapatan yang dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi. Berdasarkan pengamatan kami, ada beberapa strategi untuk melakukan “ekonomisasi” situs dan bangunan kuno. Pertama, pengelolaan dan perawatan fisik yang profesional dan menarik. Misalnya, perawatan, performance (tampilan), dan tata letak. Seluruh situs dan bangunan kuno yang ada di Roma terawat dengan baik, dengan jejak-jejak sejarah yang jelas. Bangunan kuno dengan ornamen-ornamen dekoratif yang artistik dan eksotik terlihat rapi dan bersih. Tidak ada kesan kusam dan kumuh, apalagi horor. Dengan kondisi ini pengunjung merasa betah berada di tempat itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, membuat narasi yang menarik dan dapat memancing daya ingin tahu publik. Di Roma dan Vatikan, informasi seperti ini tersedia secara melimpah, baik di travel-travel agent, dunia maya, maupun di lokasi wisata. Semua informasi menampilkan narasi yang dapat menarik publik untuk datang. Mereka datang tidak sekadar ingin menikmati pariwisata, tetapi juga menjadi simbol status sosial. Pendeknya, narasi yang dibangun bukan sekadar keindahan tempat wisata, tapi juga soal gengsi dan status sosial.

Ketiga, membangun suasana yang nyaman dan enjoy di tempat wisata. Di semua situs dan bangunan kuno hampir tidak ada pedagang asongan yang mengganggu pengunjung dengan menawarkan dagangannya, apalagi sampai memaksa. Kedai makanan dan toko suvenir tertata dengan rapi, lingkungan bersih dan tertib. Meski jalanan sempit tapi tidak semrawut dan ruwet. Alur keluar masuk pengunjung diatur dengan rapi. Meski tak ada petugas, semua pengunjung berjalan sesuai alur. Di sana tidak ada tukang parkir dan preman yang mematok harga dan memalak, sehingga pengunjung dapat menikmati suasana dengan nyaman dan santai.

 

Dari kunjungan ke situs sejarah dan bangunan kuno Roma, kita dapat belajar bahwa bangsa Barat yanag telah maju itu, tidak menghancurkan jejak sejarahnya, tidak mengubur masa lalunya. Sebaliknya, mereka justru merawat dan menjaga jejak-jejak masa lalu itu dengan baik. Mereka menjaga sejarah bangsanya karena dari sejarah, situs, dan bangunan kono itulah mereka dapat melihat rute peradaban bangsanya. Mereka memiliki referensi hidup untuk membangun peradaban dan sumber pengetahuan untuk menghadapi kekinian.

Kami bersyukur dapat melakukan perjalanan budaya ke Vatikan dan Roma kali ini. Suatu perjalanan yang sangat indah dan bermakna.

Atas suksesnya misi ini, kami mengucapkan terima kasih pada Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Bapak Michael Tras Kuncahyono beserta seluruh jajaran, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Arifatul Choiri Fauzi, PT Djarum, Kementrian Kebudayaan, Ruah Simprug, Mbak Julia, Mbak Yanie, Mbak Retno, dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan misi kebudayaan ini. Semoga berkah dan manfaat.

Tinggalkan Balasan