Mensyiarkan Bidah Tahun Baru Hijriah

Jelas di sini terlihat bahwa penetpan tahun baru Hijriah tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad, tetapi oleh para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab, dengan mengambil peristiwa menumental hijrahnya Nabi sebagai nama tahun. Yang menarik, peristiwa hijrah Nabi sebenarnya bukan terjadi pada bulan Muharram, tetapi pada bulan Shafar. Namun demikian, atas pertimbangan banyaknya peristiwa monumental-religius yang terjadi pada bulan Muharram, akhirnya ditetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama tahun Hijriah. Beberapa fakta sejarah ini juga menunjukkan bahwa penetapan tahun Hijriah ini juga tetap berlandaskan pada peristiwa monumental.

Jika penetapan tahun baru Hijriah tidak dilakukan oleh Nabi, maka jelas-jelas hal ini adalah suatu bidah. Jika hal ini suatu bidah, maka siapa saja yang mengikutinya jelas akan masuk neraka, sesuai dalil “kullu mukhdatsatin bid’ah, wa kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalatin finnar” (setiap sesuatu yang diada-adakan (baru) adalah bidah, setiap bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan akan masuk neraka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, jika berpijak pada pola pikir kaum Wahabi yang tekstual-puritan, maka jelas perayaan tahun baru (Hijriah) merupakan bidah yang bisa membawa siapa saja yang mengikutinya masuk neraka.

Untuk memperkuat argumen dalam menafsirkan hadis tersebut, kaum tekstualis-puritan Wahabi membuat pernyataan: “Kalau sesuatu itu baik menurut agama, Nabi pasti sudah melakukan.” Ini adalah argumen mereka untuk mengunci setiap argumen yang dilakukan pihak lain dalam melakukan amalan agama yang menurut mereka tidak pernah dilakukan Nabi.

Jika logika kaum Wahabi digunakan, maka penetapan tahun baru Hijriah ini jelas bukan sesuatu yang baik, karena Nabi tidak melakukan hal tersebut.  Kalau penetapan tahun baru Hijriah ini baik, tentunya Nabi sudah melakukan hal tersebut.

Sepintas, logika kaum stektualis-piritas Wahabi ini benar dan akurat. Namun, jika dicermati lebih lanjut hal ini justru bertentangan dengan Islam dan dapat mamatikan Islam. Karena Islam menjadi statis, beku, dan mati. Sebagaimana kita ketahui, realitas adalah sesuatu yang dinamis dan rumit (complicated). Setiap saat akan terjadi perubahan yang menampilkan hal-hal baru dalam kenyataan hidup.

Tinggalkan Balasan