Menghadapi Algoritma
Dalam kacamata filsafat kontemporer, tantangan santri saat ini adalah apa yang disebut Jean Baudrillard (1981) sebagai “Simulakra”. Di dunia digital, realitas seringkali digantikan oleh citraan. Sesuatu dianggap benar bukan karena esensinya, melainkan karena ia viral atau diproduksi secara estetik.

Di sini, santri harus membekali diri dengan “nalar dekonstruksi” Jacques Derrida (1967). Santri tidak boleh hanya membaca teks di permukaan (manthuq), tetapi juga harus mampu melihat apa yang disembunyikan di balik teks tersebut (maskut ‘anhu). Siapa yang memproduksi konten tersebut? Apa kepentingan ideologis di baliknya? Mengapa algoritma media sosial memunculkan narasi tertentu di beranda kita?
Michel Foucault juga mengingatkan kita tentang relasi “kuasa/pengetahuan”. Di era digital, pengetahuan seringkali merupakan instrumen kekuasaan. Santri harus kritis terhadap “ustaz seleb” atau “influencer agama” yang mungkin memiliki otoritas visual (follower banyak), namun lemah secara otoritas keilmuan (ilmiah). Nalar kritis membantu santri membedakan mana kalam (perkataan) yang membawa pencerahan, dan mana yang sekadar komodifikasi agama untuk kepentingan ekonomi atau politik praktis.
Dari Tekstual ke Kontekstual
Dalam domain “Nalar Kritik Agama” (2002), sebagaimana dipopulerkan oleh tokoh seperti Mohammed Arkoun atau Nasr Hamid Abu Zayd, santri diajak untuk membedakan mana yang merupakan “wahyu Ilahi” yang absolut dan mana “pemikiran keagamaan” yang merupakan produk sejarah manusia.
Santri di era digital harus berani melakukan pemaknaan ulang terhadap teks klasik agar tetap relevan. Misalnya, bagaimana hukum fikih merespons mata uang kripto, kecerdasan buatan (AI), hingga etika berkomentar di media sosial. Menggunakan pisau analisis hermeneutika, santri tidak lagi sekadar menghafal bunyi teks, tapi menangkap spirit atau maqashid (tujuan) dari teks tersebut.
