Saat ini, dalam perayaan maulid Nabi, kaum muslimin Indonesia sedang secara besar-besaran menyambut kedatangan Imam Besar, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Tiada hari dilewati tanpa berselawat. Yang mengayuh becak untuk mencari rezeki, yang terbakar di bawah terik untuk mengatur lalu lintas, yang sedang berjuang berikhtiar menyelamatkan nyawa orang, yang sedang berjalan mencari botol-botol bekas di pinggir jalan, semuanya sedang menantikan kedatangan Nabi dan mengimbangi kegiatan mereka dengan berselawat. Hanya satu tujuan mereka, agar mereka juga disapa kembali oleh Nabi Muhammad.
Selawat tak pernah berhenti di bumi Nusantara. Itulah bukti kalau tanah Nusantara tidak mau meninggalkan Rasulullah dan tidak mau ditinggalkan Rasulullah. Karya-karya selawat menjadi membumi dan menyebar di kanal media sosial. Selawat menjadi tren baru untuk anak muda masa kini. Dan, selawat menjadi wadah menuangkan gundah. Bukan, bukan karena kita rakyat Indonesia men-Tuhankan Muhammad. Sangat bodoh, jika Muhammad kami Tuhankan menggantikan Allah. Mana mungkin kami musrik kepada Allah, walaupun itu kepada Nabi Muhammad.

Kami sudah mendapat legitimasi dari Allah, bahwa untuk menuju Allah, kami harus bersama-sama dengan Kanjeng Nabi. “Laulaka, laulaka ya Muhammad, maa kholaqtul aflak”.
