Padahal, bukankah itu semua adalah bentuk kekerasan fisik dan verbal pada anak? Pengalaman ini malah akan membuat anak menjadi trauma dan meninggalkan atau menjauh dari masjid.
Dalam beberapa dekade ini banyak orang yang tidak paham bahwa melakukan tindak kekerasan pada anak di manapun saja, meski di tempat ibadah, akan berdampak pada kondisi psikologis mereka.

Bentuk kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak selama di lingkungan masjid, sepanjang pengamatan saya, masih terbilang normal. Saat azan berkumandang mereka berbondong-bondong datang ke masjid dengan raut wajah yang gembira, apalagi bertemu dengan banyak teman sebayanya, sambil lalu bercerita tentang hal-hal yang mengasyikkan disertai dengan canda tawa yang menggelegar. Apalagi berada di tempat yang terbilang luas memberikan ruang mereka untuk bergerak bebas.
Dunia anak adalah dunia bermain. Konsep ini perlu dipahami oleh kita sebagai individu dewasa. Kita juga sudah mendengar banyak kisah bagaimana Rasulullah saat salat dan ketika bersujud lalu ada cucunya, Hasan dan Husein yang suka melompat ke punggung Rasulullah. Saat Rasulullah mengangkat kepala, perlahan Rasulullah memindahkan sang cucu dan meletakkannya di sampingnya.
Kemudian, saat Rasulullah sujud, cucunya kembali memanjat punggungnya sampai beliau selesai salat dan mendudukkan mereka di pangkuannya.
