Demikianlah, bagaimana Rasulullah memperlihatkan caranya berinteraksi dengan anak-anak saat ia melaksanakan ibadah, sungguh kasih sayangnya pada anak-anak menjadi teladan bagi kita, untuk tetap bersikap baik pada anak kendati mereka berperilaku yang menurut orang dewasa “mengganggu ibadah” mereka.
Secara umum masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah atau tempat salat. Di masa Rasulullah, masjid memiliki banyak fungsi lainnya, seperti untuk aktivitas pendidikan, sosial dan ekonomi, serta politik dan budaya. Begitu pula pada puncak kejayaan Islam di masa pemerintah Harun Ar-Rasyid, masjid menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan agama, sehingga lahirlah banyak tokoh-tokoh penting yang menyebarkan Islam ke pelosok negeri.

Oleh karenanya penting sekali untuk mendeklarasikan masjid ramah anak. Dan pemerintah nampaknya sudah mensosialisasaikan hal ini, dengan harapan anak tidak lagi mendapatkan diskriminasi selama beraktivitas di masjid. Mereka dapat menjalankan ibadah maupun aktivitas sosialnya yang positif dengan perasaan aman, nyaman, dan bahagia.
Pemerintah juga ikut andil mengubah citra masjid yang kaku menjadi salah satu insitusi yang dapat memberikan ruang untuk menyalurkan kreativitas anak. Karena anak memiliki banyak energi yang harus disalurkan melalui kegiatan-kegiatan positif.
Hadirnya bulan Ramadan ini cukup tepat dijadikan momentum untuk menerapkan konsep masjid ramah anak. Seperti melibatkan anak-anak dalam kegiatan lomba yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadan, atau pawai menyambut bulan Ramadan. Anak juga bisa diajak dalam kegiatan pengajian yang konteksnya sesuai dengan karakter anak, seperti kajian tentang kisah rasul dan sahabat nabi hingga cerita-cerita dari para tokoh muslim dunia dan lainnya.
