Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Genderang Perang

Hijrah Nonfisik

Dalam buku Kosa Kata Agama (2020), pakar tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa sebelum hijrah fisik, Rasul terlebih dahulu diperintahkan untuk hijrah nonfisik saat berhadapan dengan cacian, fitnah, dan ancaman kaum kufar Mekkah selama belasan tahun. Hijrah varian ini juga ditekankan Nabi setelah pembebasan Kota Mekkah. Pesan ini bisa ditangkap dari sabda beliau yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa tidak ada hijrah setelah fathu makkah. Yang ada hanya niat dan jihad.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Quraish Shihab kemudian menjelaskan bahwa jihad di masa hijrah fisik adalah berupa perang fisik. Setelah fathu makkah, jihadnya berupa perang melawan hawa nafsu dan ini sesuai dengan sabda Nabi bahwa makna hijrah adalah meninggalkan hal yang dilarang Allah.

Saat sekarang, hijrah fisik sudah tidak dominan. Jihad fisik pun juga bisa dikatakan tidak ada. Yang paling terasa penting adalah hijrah nonfisik, jihad melawan hawa nafsu. Dengan kecanggihan teknologi, tidak ada tempat yang tidak terjamah ancaman dan kemungkaran. Hanya lewat HP yang terkoneksi dengan jaringan, orang bisa jadi alim atau lalim, walaupun dia pindah ke ujung dunia sekalipun. Kendalinya ada di dalam diri. Maka, jihad yang paling instrumental saat ini adalah memerangi dorongan negatif yang berasal dalam diri.

Apakah ini lebih mudah daripada memerangi musuh di medan perang? Tidak. Sebaliknya, inilah jihad akbar. Inilah hijrah paling gebyar. Sebab, selesai perang Badar, Nabi menegaskan bahwa kepada para sahabat beliau bahwa mereka baru kembali dari perang kecil menuju perang besar, yakni perang melawan hawa nafsu.

Di bulan Muharam memang dilarang mengadakan perang. Itu jika musuhnya orang lain. Jika musuhnya hawa nafsu diri sendiri, justru sangat dianjurkan memeranginya. Mari sambut Tahun Baru Hijriah ini dengan genderang perang. Perang melawan nafsu diri sendiri.

Tinggalkan Balasan