Menyatukan Dunia Pesantren dan Akademik

Dunia Pesantren

Kitab kuning, istilah lainnya kutub al-turaats, sangat akrab dengan santri. Apalagi ilmu fikih. Porsi pengkajian dan pendalamannya lebih banyak ketimbang tasawuf dan ilmu lainnya. Penguasaan terhadap ilmu alat merupakan bekal awal untuk mengerti isi kandungan kitab-kitab keislaman, kitab kuning tersebut. Proses pembelajaran ilmu alat tetap patut diapresiasi dan terus dipertahankan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejak madrasah tsanawiyah sampai madrasah aliyah, pelajaran terkait ilmu kalam, fikih, nahu, dan lainnya, sudah sangat akrab dalam benak santri. Sudah banyak istilah yang terekam dalam ingatan santri. Perlu diketahui, bahwa semua disiplin ilmu tersebut tergolong dalam ilmu-ilmu keislaman, bukan Islam itu sendiri. Merupakan warisan masa dinasti Abbasiyah.

Sisi lain yang perlu disadari dan ditekankan adalah bahwa ilmu-ilmu yang dikaji di pesantren puncak atau sumbernya berasal dari al-Quran. Meski pada turunannya diwarisi oleh banyak ulama atau pemikir-pemikir pada bidangnya. Sebut saja salah satunya mazhab dalam fikih. Turunan ini, sebisa mungkin tidak menghalangi seseorang untuk menyadari bahwa segala sesuatunya tetap berasal dari Allah. Catatan pentingnya di sini.

Dunia Akademik

Apa identitas yang melekat pada dunia akademik? Ya, penelitian merupakan identitasnya. Sejak awal kuliah, mahasiswa pasti dikenalkan dengan dunia penelitian, meski baru di tingkat bawah, yakni makalah. Melalui makalah, mahasiswa dituntut secara mandiri mencari pertanyaan sekaligus jawaban. Puncak dari penelitian adalah mengetahui secara mandiri segala sesuatu; terkait masalah yang mengitarinya sekaligus solusi atau jawaban atas masalah tersebut.

Penelitian mengharuskan seseorang bersentuhan dengan sesuatu yang ditelitinya secara intens dan kontinu. Tujuannya agar peneliti mendalami dan menguasai betul apa yang sedang ditelitinya. Pertemuan yang intens akan menumbuhkan banyak pengetahuan baru. Ide-ide baru. Gagasan-gagasan baru.

Proses penelitian ini tidak bisa bahkan jangan sampai berhenti di tataran yang tampak, melainkan harus memasuki dimensi dalamnya, hakikat dari yang nampak sebenarnya apa. Sebab, penelitian seringkali hanya berpusat atau berhenti pada yang nampak.

Tinggalkan Balasan