Menyatukan Dunia Pesantren dan Akademik

Katakanlah biologi, hanya meneliti organ tubuh manusia dan tumbuhan. Nah, melalui yang nampak, seseorang atau peneliti harus melangkah lebih jauh. Siapa yang menciptakan mansuia dan tumbuhan? Bagaimana alam semesta ini bisa teratur sedemikian rupa. Siapa yang mengaturnya. Ini langkah awal.

Penyatuan Keilmuan

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perlu disadari dan direnungkan, bahwa pengetahuan yang kita peroleh berasal dari tiga entitas, pengalaman empiris, rasional, dan spiritual. Pengalaman diwakili oleh panca indera, rasional diwakili oleh akal, spiritual bisa diserap melalui intuisi. Tiga entitas tersebut tidak boleh dipilah-pilah secara terpisah. Guna mencapai kesadaran akan kesatuan ilmu, ketiganya harus dipergunakan secara holistik (menyeluruh) dan komperehensif (lengkap).

Ilustrasinya bisa seperti berikut: apa yang ditemukan lewat pengalaman (empiris), seperti api yang membakar, air yang menguap, gula yang manis, garam yang asin, dan berbagai kejadian pengalaman lainnya. Langkah selanjutnya, mencari alasan rasionalnya (rational reason), untuk mendapatkan argumen secara rasional. Intuisi bekerja untuk menyerap keagungan Tuhan. Betapa kemudian Tuhan menciptakan alam semesta dengan rahasia yang terkecilnya dan begitu sistematis. Ini terkait ilmu-ilmu alam. Pada prosesnya juga memerlukan al-Quran. Khususnya ayat-ayat kauniyah.

Begitu juga ilmu-ilmu keislaman yang sering kali berpusat pada teks, epistemologi bayani (asal pengetahuan dan teori kebenarannya berdasarkan teks). Diwakili oleh ilmu kalam dan fikih. Apakah teks tersebut sesuai atau tidak dengan realitas atau konteks diambil alih oleh epistemologi burhani (asal dan kebenaran pengetahuannya berdasarkan akal sehat), diwakili oleh ilmu logika. Peran intuisi terjadi dalam epistemologi irfani (asal pengetahuan dan kebenarannya berpusat pada intuisi). Kerja intuisi bisa masuk pada pengalaman selama mengamalkan ajaran-ajaran agama.

Kesimpulan

Dunia pesantren merepresentasikan (mewakili) ilmu-ilmu keislaman yang bersumber dari al-Quran serta Hadits. Dunia akademik mewakili metodologi penelitian. Pertemuannya ada pada pengalaman empiris-epistemologi bayani. Penggunaan rasional-epistemologi burhani. Memfungsikan intuisi-epistemologi irfani. Semua harus bersatu padu dan bersifat sirkular. Melalui kerja sama penyatuan keilmuan menjadi mungkin. Perlahan proses penyatuan berdasarkan etika tauhidik (bahwa segala sesuatu berasal dari Yang Satu) tersebut akan mengantarkan pada ma’rifah (mengenal Allah).

Proses ini mengindahkan adanya reformulasi kurikulum dalam dunia akademik. Ilmu biologi harus dimuati ayat-ayat kauniyah, sebagai contoh. Supaya tidak berhenti hanya pada ilmu umum saja. Kesadaran bahwa biologi juga manifestasi keagungan Allah didapat melalui al-Quran.

Tinggalkan Balasan