Sebelumnya K. M. Faizi juga menjabarkan, “Burdah adalah salah satu mahakarya di bidang kasidah. Dipuji pokta dalam bidang madah nabawiyah.”(hal. xvii) Oleh karena supaya kita tidak sekadar menabuh kidung genderang, berlanggam seruling, maka diperlukan syarah atas makna yang terselip di dalam setiap aksara kata.
Imam Al-Bushiri merangkai Burdah dengan kalimat atau kata yang penuh makna. Setiap gubahannya diaransmen dengan sedemikian mistis. Hingga pada setiap bait diakhiri dengan huruf min (berharkat kasrah). Tentu saja gubahan sajak yang sedemikian tidak mudah. Diperlukan kepakaran di bidang bahasa (Arab). Serta ketekunan yang dan rasa cinta yang luar biasa.

Kasidah Burdah memiliki judul panjang. Yaitu Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Madh Khair al-Bariyyah, yang berarti “Bintang-bintang yang Gemerlap dalam Memuji Sebaik-baik Makhluk.” Karya ini kemudian lebih dikenal dengan nama Burdah, dan sampai sekarang dibaca serta dikaji di berbagai negeri Muslim, termasuk di Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren dan majelis-majelis keagamaan.
Burdah bukan sekadar rangkaian puisi. Di dalamnya terdapat nasihat tentang kehidupan, peringatan agar manusia tidak diperbudak hawa nafsu, ajakan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT, serta ungkapan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah SAW.
Imam Al-Bushiri juga menggambarkan keagungan akhlak Nabi, kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, perjalanan Isra dan Mi’raj, perjuangan Rasulullah SAW, hingga doa dan pengharapan kepada Allah SWT.
Pada larik pertama dan kedua, Imam Al-Bushiri menuliskan: (hal. 3)
اَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِي سَلَمِ # مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
Apakah sebab teringat para tetangga di Dzi Salam kau mencucurkan air mata bercampur darah dari pelupuk mata?
اَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ # وَاَوْمَضَ الْبَرْقُ فِى الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ
Ataukah sebab embusan angin yang bertiup dari arah Kazhimah dan kilatan petir di tengah kegelapan malam dari lembah Idham?
