Saya terkadang masih heran, kenapa banyak orang tua yang memilih pendidikan pesantren untuk anak-anaknya. Dipaksa hidup dengan segala peraturan yang ketat, tidak ada ruang untuk berekspresi, dan menjadikan mereka sebagai bahan percobaan sebuah sistem pendidikan. Lagi pula, apa sih istimewanya pesantren?
Mungkin, pilihan orang tua memasukkan anaknya ke pesantren supaya tidak salah bergaul. Hidup di lingkungan yang baik akan membawa mereka menjadi baik. Mengerti ilmu agama, tahu tata krama, dan bisa menjadi seorang ustaz dan diharapkan bisa membawa keluarga mereka kepada status sosial yang lebih tinggi.

Pikiran seperti itu pernah mengganggu saya selama satu tahun pada saat duduk di bangku kelas tiga madrasah tsanawiyah. Bagaimana tidak? Saya dipaksa untuk tinggal di pesantren salaf yang lokasinya hanya satu kilometer dari rumah selama tiga tahun sambil sekolah. Cukup menjengkelkan, memang. Pikiran negatif soal pesantren terus menghantui setiap saat. Sebab, melihat teman sejawat di usia perkembangan yang bisa melakukan banyak hal dan mengetahui banyak hal membuat iri.
Pada masa-masa itu, sempat terpikir kalau cita-cita saya tidak akan pernah terwujud karena paksaan orang tua itu. Saat itu, pesantren hanya mengajarkan bagaimana cara memasak dan memakai sarung. Hampir setiap malam selesai salat isya, sisanya, hanya mendengarkan cermah-ceramah soal keagamaan.
