Perubahan yang cukup signifikan mulai terasa saat menginjak bangku sekolah menengah. Banyak menemukan hal baru dan sudut pandang baru soal pesantren. Ada perasaan unik di mana ketika hidup berdampingan bersama banyak orang dengan karakter, suku, dan budaya yang berbeda-beda.
Dengan model pendidikan pesantren semi modern, santri diajarkan soal ilmu-ilmu pengetahuan umum dan soft skill lewat kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibra, Bela Diri, IT, Paduan Suara, Protokoler, dan yang lainnya. Selain itu, ada kegiatan mingguan yang harus dilaksanakan oleh semua santri untuk mengasah mental berbicara di depan umum, yaitu muhadarah.

Banyak kegiatan yang bisa dipilih oleh para santri. Saya lebih senang mengikuti kegiatan protokoler, pramuka, dan marawis. Selain belajar ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama, kebutuhan untuk menunjang skill pun bisa terpenuhi. Selain itu, santri tidak perlu repot-repot memasak, karena sudah disediakan makan sebanyak tiga kali dalam sehari. Sempat terpikir, barangkali model pesantren seperti ini lebih baik dibandingkan pesantren salaf di kampung.
Hal yang paling mengejutkan saya temukan ketika duduk di bangku kuliah. Tinggal di pinggiran ibu kota membuat saya sedikit khawatir. Sebab, stigma soal ‘pergaulan bebas’ di kota masih sangat kental dengan nilai-nilai negatif bagi orang-orang kampung. Oleh karena itu, memilih mukim di pesantren adalah alternatif terbaik. Namun, model pesantren seperti ini baru saya temukan.
