Menyelami Samudera Para Wali

Buku yang diterjemahkan dari kitab Min Ma’arif al-Sadat al-Shufiyyah ini berisi tentang kisah para wali, yang tak lain mereka adalah pewaris dan pengikut sunah Nabi Saw. Mereka merupakan orang pilihan yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk meneguk ilmu dan pemahaman yang tidak termaktub dalam kitab apa pun. Dengan ilmu, mereka mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

Ilmu-ilmu itu kemudian mereka sampaikan kembali kepada khalayak orang agar mereka mengambil pelajaran. Salah satu misal yang dapat kita ambil dari ilmu mereka ialah tentang adab. Syeikh Muhammad Alwi al-Maliki pernah berkata, “Sesungguhnya iblis celaka bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena kurangnya adab” (hlm. 361).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hanya gara-gara kurangnya adab, iblis yang sebelumnya dikenal sebagai sosok yang alim, tergolong jin yang sungguh-sungguh dalam beribadah hingga Allah meninggikan derajatnya di alam arwah dan memiliki kedudukan luhur di kalangan malaikat, tiba-tiba jatuh tersungkur, runtuh kesungguhan ibadahnya, dan yang lebih disesalkan lagi, ia diberi titel makhluk terkutuk.

Akhirnya, ia menjadi contoh hidup yang nyata bagi orang-orang yang tak beradab. Baik tak beradab kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada para wali dan kekasih-Nya, kepada seluruh kaum muslimin, bahkan kepada seluruh makhluk. Oleh karena itu, kurang adab adalah sebuah kebodohan, pengingkaran dan kekufuran atas nikmat Allah.

Seorang sufi agung mengatakan, “Siapa saja yang tak beradab, maka tidak ada perjalanan tarekat baginya. Orang yang tidak memiliki perjalanan tarekat, maka ia tidak akan sampai kepada puncak tujuannya. Karena itu, adab mendekatkan jarak perjalanannya.”

Tinggalkan Balasan