Kisah Musa dan Khidir, Relasi Syariat dan Hakikat

Ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidir, sudah terlebih dahulu Khidir memastikan bahwa Musa tidak akan dapat bersabar atas tingkah lakunya. Akan tetapi Musa bersikukuh untuk tetap mengikutinya.

Menurut para ahli tafsir, karena di dalam Al-Qur’an hanya disebut dengan “abdan min ibadina ‘atainahu rohmatan min ‘indina wa ‘allamnahu minladunna ilma”, yaitu hamba dari hamba-hambaku, yang kuberi dari sisiku rahmat, dan mengajarkan kepadanya ilmu dari sisiku, Khidir tergolong nabi yang disebut dalam Al-Qur’an tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan memang benar, saat pertama mereka berdua berjalan dan menjumpai sebuah kapal, Khidir melubanginya, sehingga menyebabkan semua penumpang tenggelam. Setelah itu, Khidir membunuh seorang bocah kecil di bibir pantai dengan mencabut kepalanya sampai putus, dan menegakkan sebuah rumah yang sudah hampir rubuh.

Karena kesadaran akal sehat, Musa bertanya perihal alasan Khidir melakukan semua itu. Khidir menjawabnya dengan kalimat singkat, padat, dan jelas: “wama fa’altuhu ‘an amri” (Apa yang telah aku lakukan tadi, bukanlah menurut kehendakku sendiri).

Tinggalkan Balasan