Menyelami Samudera Para Wali

Atas dasar itu pula, didikan para sufi dibangun di atas adab. Guru-guru tarekat pernah menyatakan, “Tasawuf itu seluruhnya akhlak. Siapa yang menambah akhlak kepadamu, maka ia telah menambah tasawuf kepadamu.”

Hal senada dikemukakan oleh Syeikh Abu Hafsh al-Naisaburi, “Tasawuf itu seluruhnya adab. Setiap waktu memiliki adab. Setiap akhlak memiliki adab. Dan setiap maqam juga memiliki adab. Siapa saja yang berpegang pada adab, maka ia akan sampai kepada tujuannya. Sebaliknya, siapa saja yang menghilangkan adab, maka ia semakin jauh dari tujuan, meski dirinya merasa semakin dekat. Ia akan ditolak meski ia mengira akan diterima” (hlm. 362).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adab merupakan intisari dari ilmu. Ilmu menuntut kita untuk mengenal Allah. Sehingga dengan mengenal-Nya, kita akan mencintai-Nya, akan mentaati-Nya, serta tunduk patuh di hadapan-Nya. Sementara adab yang buruk adalah sempalan dari ketertipuan ilmu. Seperti iblis, ia tertipu oleh ilmu yang menurut dugaannya telah berhasil didapatkannya, akibatnya ia terjerumus pada adab buruk terhadap Allah Swt.

Ilmu lain yang kita dapatkan dari buku yang ditulis oleh penulis kitab Qishashul Auliya’ ini adalah ilmu tentang mengajari anak. Syeikh Abu Ishaq al-Jabaniyani menuturkan, “Janganlah ada yang mendidik anak-anak kalian, kecuali orang yang bagus agamanya. Sebab, agama sang anak tak jauh dari agama orang yang mengajarinya” (hlm. 125).

Anak-anak kita membutuhkan ilmu untuk keberlangsungan hidup mereka. Yang nantinya dengan ilmu tersebut mereka bisa membedakan antara halal dan haram, serta antara haq dan batil. Ilmu yang diharapkan adalah ilmu yang membuat mereka selamat dan bahagia hidup di dunia dan akhirat kelak. Berdasarkan hal tersebut, kita dituntut untuk mencari guru untuk mereka dengan cermat dan tidak sembarangan. Yaitu guru yang saleh, yang mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang mengajari akhlak-akhlak nabi, yang menanamkan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya dan para wali-Nya, serta guru yang mendapatkan ilmu dari gurunya. Guru-gurunya menerima ilmu dari guru mereka. Guru mereka dari gurunya lagi. Demikian seterusnya hingga sanad keilmuannya bersambung kepada Nabi Saw.

Tinggalkan Balasan