Pertama, fenomena ini menunjukan bahwa para santri masih rentan dan mudah terbawa arus media sosial. Ini perlu diwanti-wanti sekaligus dijadikan bahan kekhawatiran. Jangan sampai para santri menjadi orang-orang yang latah, fomo, atau hanya suka ikut-ikutan.
Sebenarnya tidak ada masalah selama tren yang diikuti bukan sesuatu yang buruk. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa tren yang ada di media sosial akan selalu baik? Semua hal bisa terjadi di media sosial, dan jika budaya fomo atau ikut-ikutan ini terus berlangsung tanpa adanya filterasi mana konten yang baik mana yang buruk untuk diikuti, tentu ini tidak bisa terus dibiarkan.

Kedua, sering ikut-ikutan tren media sosial dapat menandakan seseorang telah kehilangan sikap kritis. Orang yang mempunyai sikap kritis biasanya akan lebih bijak dalam menanggapi berbagai hal. Sikap kritis juga bisa membuat seseorang mau memilah dan memilih mana hal yang layak diikuti mana yang tidak.
Merebaknya velocity dikalangan para santri memberikan indikasi pada kita akan minimnya perhatian para santri untuk memilah dan memilih konten. Hal ini juga menandakan berkurangnya sikap kritis santri terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.
Kiranya perlu diklarifikasi bahwa tulisan ini bukan untuk melarang para santri ikutan bikin velocity. Toh, di atas juga sudah dijelaskan bahwa boleh-boleh saja kita berjoget-joget asalkan tetap menjaga norma-norma syariat. Tulisan ini hanya ingin mengajak para santri untuk bisa lebih bijak dalam bermedia sosial. Jangan sampai tren video velocity ini atau bahkan berbagai tren tiktok lainnya menjadi pintu gerbang masuknya budaya ikut-ikutan, fomo, atau latah di kalangan muda-mudi pesantren.
Santri seharusnya memiliki integritas dan nilai-nilai tersendiri yang dapat menjadi pedoman di setiap lini aktivitas mereka tanpa berkiblat pada standar-standar buruk yang ada di media sosial. Pedoman dimaksud tentulah merupakan nilai-nilai spiritual yang selalu disampaikan oleh para guru dan masyaikh kita di pesantren seperti sopan-santun, menjaga adab, berakhlakul karimah, kritis, moderat, wa nahwiha.
Sudah saatnya para santri berhenti hanya menjadi konsumen video-video viral. Sebaliknya, santri juga harus berkontribusi dengan membuat sekaligus memviralkan tren-tren positif yang berhaluan dakwah. Bukan semata untuk mencari popularitas, tapi juga untuk menggiring masyarakat untuk lebih dekat dengan nilai-nilai agama. Sekian dan semoga bermanfaat.
