Santri tahfiz, sebutan untuk mereka yang menghafal AlaQuran, wajib punya waktu menyepi dari keramaian untuk mempersiapkan hafalan yang akan disetorkan kepada ustaz/ustazah. Jika persiapan untuk setoran kurang maksimal, maka pada jam setoran santri akan sulit mengingat ayat-ayat Al-Quran yang akan ia simakkan kepada ustaz/ustazah. Tentu, ustaz/ustazah yang menyimak hafalan para santri memiliki kualitas hafalan dan bacaan Al-Quran yang bagus. Terkadang, beliau tak perlu membuka Al-Quran untuk menyimak hafalan para santri. Cukup dengan ayat-ayat Al-Quran yang sudah bersemayam di otak untuk membenarkan hafalan santri yang kurang lancar.
Kami menyebutnya dengan menyimak hafalan dengan hafalan. Sebagai santri, saat melihat begitu lancar hafalan Bu Nyai atau ustazah sampai tak perlu membuka Al-Quran saat membenarkan hafalan santri yang sering kurang lancar, kami takjub dan terharu. Bertanya pada diri sendiri, kapan kiranya kami seperti beliau-beliau.

Dan beliau pun seringkali menuturkan bahwa bagi seorang hafiz/hafizah, satu-satunya teman adalah Al-Quran yang tak pernah meninggalkan dan akan memberi syafaat kelak di hari kiamat. Jadi, sudah kewajiban bagi santri tahfiz untuk selalu dekat dengan Al-Quran. Sehingga Al Quran pun berkenan dekat dengan kita, berkenan berada di ingatan kita, dan tidak akan lari dari ingatan kita kalau kita terus menerus membacanya.
