Konsep ideal memakmurkan masjid kini telah banyak terdistorsi. Realita ini bisa kita temui ketika masjid sudah jarang sekali dipakai untuk kegiatan-kegiatan sebagaimana pada zaman Rasul, yaitu beridskusi masalah strategi, politik, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya.
Masjid yang kini bangunannya jauh lebih megah dari zaman Rasul, justru memiliki fungsi yang semakin minim. Kehadiran masjid hampir-hampir hanya dipakai untuk tampat ritual, jarang sekali masjid yang benar-benar dimanfaatkan untuk membahas isu-isu kontemporer politik dan kenegaraan.

Hal ini bisa terjadi karena paradigma masyarakat secara perlahan terpengaruh oleh paham sekuler yang memisahkan antara agama dan politik. Padahal mestinya agama dan politik bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang. Umat Islam tidak akan bisa membangun peradaban tanpa kekuatan politik.
Senada dengan hal ini, orang-orang yang memakmurkan masjid antara zaman Rasul dengan zaman sekarang pun mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Orang yang bertanggung jawab atas masjid mestinya orang yang memiliki kapasitas intelektual dan finansial yang cukup bahkan di atas rata-rata, sesuai dangan surat at-Taubah ayat 18. Hal ini akan sejalan dengan tanggung jawabnya membimbing dan menuntun umatnya untuk membangun peradaban yang lebih maju.
Berbeda dengan zaman sekarang, orang yang paling banyak di masjid dan bertanggung jawab atas kemakmurannya disebut dengan istilah “marbot” yang justru digaji dari dana pemberian umat. Orang yang memegang otoritas di masjid mestinya yang memiliki marwah yang tinggi, sebagaimana Rasul yang menjadi pemimpin negara juga menjadi pemimpin salat.
Selayang pandang akan membangun peradaban, akan menjadi sebuah khayalan jika umat Islam tidak segera membuka pikiran. Ketertinggalan umat Islam saat ini dalam kemajuan, semestinya sudah cukup sebagai cambukan untuk menimbulkan pergolakan pikiran. Masjid yang dulunya menjadi jantung peradaban, kini lebih banyak digunakan hanya sebatas kegiatan ritual dan pemujaan.
Masalah inilah yang harus kita renungkan dan kita ubah dengan keseriusan. Kemajuan umat Islam akan berpangku di kaki kita sebagai generasi harapan. Oleh karena itu, marilah kita terus berpikir maju ke depan dalam rangka membangun peradaban dan mewujudkan spirit-spirit yang ada di dalam Al-Qur’an.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
